Tatapan nan polos tak berdaya dan penuh hampa
Pikiran arkais yang dicampakkan selalu saja datang menerpa
Batin diri bekerja keras untuk meredam rasa amarah
Namun, helaan napas sebagai bukti akhir usaha yang amat payah
Ini semua bermula dari kesalahan yang tidak terduga
Namun dibalas dengan bayaran menyayat hati yang terjaga
Lihatlah! Raksi kebusukan bergejolak mendatangkan kelicikan
Hingga tanda kebenaran sudah tidak tampak pada permukaan
Aku sangat letih, ketidakadilan sudah terbang berhamburan
Diriku hampir tidak sanggup menanggung keputusan wali
Mengapa mereka tidak memandang adanya kebenaran?
Apa kebenaran dapat memerihkan pasang mata kalangan wali?
Sungguh… seperti ada ribuan anak panah menancap dalam hati
Kurasakan urat tubuh sebagai jalur aliran listrik tegangan tinggi
Senyuman pilu seakan memulihkan cedera dalam hati
Tersadar semesta ini memang keji, aku harus membiasakan diri
Kuharap semesta segera pulih, dan kebenaran akan hidup abadi
Jakarta, 14 Maret 2021
Biodata Penulis
Muhammad Lazuardi, seorang siswa SMAN 28 JAKARTA yang memiliki banyak hobi salah satunya menulis puisi sejak duduk di bangku SMP, ia beralamat di Jalan Bima Jaya RT 002 RW 04 No.5, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Ardi, begitu panggilannya sehari-hari, ia dapat dihubungi melalui WhatsApp 08979055170 maupun email mlazuardi80@gmail.com