Lewat Dua Belas Malam Oleh : Ulil Nur A. (Finalis LCP Batch 4)
👁️ dibaca
Lewat
Dua Belas Malam
Oleh
: Ulil Nur A.
Lewat dua belas
malam, candra tampak adiwarna, menjadi binar sementara untuk jumantara yang
gulita.
Ada yang mengais
bunga tidur, atau sekadar memejamkan nayanika, namun atmanya menjelajah aksa.
Lewat dua belas malam,
ada sayu yang menatap telak pada refleksi kaca. Bertanya mengapa wanodya lain
begitu memesona.
Padahal ia
kirana, dengan sanubarinya yang seluas dirgantara, dengan budinya yang jatmika.
Ia adalah bimala—karya tuhan yang nirmala.
Lewat dua belas
malam, ada pujangga yang merajut aksara, musikus yang menyusun tala, atau
pelukis yang melepas jarinya bekerja.
Hingga lahir
elegi dengan seribu satu makna hasil tumpah ruah kenestapaan, alunan eufoni
yang menenangkan bak senandung dari suralaya, atau lukisan tentang sepasang
atma yang tenggelam dalam asmaraloka.
Lewat dua belas
malam, kunarpa pendosa memohon ampun pada yang esa—yang amerta. Memekik pada
seluruh mayapada. Mengais doa yang dikirim kerabat mereka.
Karena kasih,
itu balasan atas dosanya di dunia.
Dan tahukah
engkau, Kasih?
Lewat dua belas
malam, itu singkat, dengan cerita yang berbeda,
—atau terlalu
panjang, untuk ia yang hampa.
Madiun,
31 Mei 2021
Posting Komentar