NESTAPA Oleh: Gita Novi Hastari (Peserta LCP 5)
👁️ dibaca
Table of Contents
Oleh: Gita Novi Hastari
Kaca itu semakin sesak penuh amarah, lingkaran setan yang terus menghitam
Hinaan dan ujaran kebencian kian terdengar
Mereka memberontak, dunianya direnggut oleh wabah
Kemarin, kami masih tertawa hingga meneteskan air mata
Hari ini, kami menangis hingga tak tahu harus berbuat apa
Satu bulan, sepuluh bulan, satu tahun, dua tahun?
Di tengah riuh tawa ibu kota, lukanya tetap basah
Batinnya kian mengeluh, duduk bersimpuh layaknya lumpuh
Menyalurkan pilu bersama gemerlap lampu
Bentala kami berselimut luka lara, terbatas, terbelakang, dan tertinggal
Geram hati menyimpan sendu, dibalik atap rumah kayu
Sudah tak ada tawa yang disebar, tak ada lagi senyum yang terpancar
Pipinya semakin basah, pun matanya yang kian memerah
Mendengar kabar duka dengan tanpa hentinya memekakan telinga
Hidupnya yang penuh akan nestapa kini kian sengsara
Kepada luka yang telah menuai derita, kepada rasa sakit yang kian menjerit
Tuhan memegang kunci, atas apa yang terjadi, seluruhnya, selamanya.
Yogyakarta, 24 Juli 2021
20 komentar