Skenario ”Pergi, Jangan Kembali Lagi!” - Karya Budianto Sutrisno (Peserta LCP 10)

πŸ“… 06 Maret

Skenario ”Pergi, Jangan Kembali Lagi!”

Karya Budianto Sutrisno


Kala cahaya temaram mulai menyepuh gerbang malam

kucoba rebahkan diri dan menepis gejolak rindu

tapi segera aku terjaga dalam kelibang angan yang enggan menghilang

lantaran raut wajahmu melintas-lintas di awan ingatan

melibas imaji puisiku hingga tiada daya untuk melukiskan asa

bungkah diksiku pun andam karam, lenyap hasrat mengeja rasa

nadanya terbata-bata, iramanya lintuh merapuh disapu gelombang rindu

Kuakui, aku tak kuasa melupakan dirimu

seluruh senyum, tawa, dan desahmu telanjur bersemayam di relung kalbu

ingatan akan dirimu itu layaknya lintasan bola mentari

meski hari ini tenggelam di balik bukit dengan semburat jingga

esok hari ’kan muncul lagi menyampirkan selendang saga di bahu cakrawala

silih berganti menutup luka lama dan torehkan luka baru

rentang jeda sekian warsa tak saling berkabar, tak saling mendengar

membawaku pada ujung simpul: rinduku telah tiba di bagian pamungkas asmaraloka

pesta bersulang anggur dan cecap madu telah usai

menyisakan keping kenangan yang hancur berderai

Tanpa niat memasung kebebasanmu, dulu kuingin tahu di mana pijak langkahmu

namun sejurai kabar tak pernah teruar darimu

lalu mengapa kini kau sudi kembali?

mentari datang untuk balurkan hangat atau tusukkan sengat?

wajar aku bertanya, lantaran hatimu bersulur belukar misteri yang tersembunyi

aku memang pernah merinduimu, tapi aku bukan pondok tetirah peluruh gerah

di mana kau bebas datang dan pergi sesuka hati

kucoba meniti kearifan dalam liku pengalaman yang berkuyup genangan air mata

rasanya sudah tiada lagi ruang untuk yang hilang dan ingin pulang

pulangkan saja rindumu ke lain hati, semenjana belulang rinduku telah rimpuh luruh

skenario ”pergi, jangan kembali lagi!” dari Sang Maha Sutradara, kujalani tanpa terenyuh


Jakarta, 3 Maret 2022


Biodata Penulis


Penulis kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah. Menekuni karier sebagai guru selama 18 tahun di

sekolah swasta di Jakarta. Di tengah kiprahnya dalam dunia pendidikan, penulis

menyempatkan diri untuk menggubah sejumlah puisi, cerpen, dan esai. Beberapa di antaranya

telah memenangi sejumlah lomba tingkat nasional. Sejumlah tulisan lainnya telah dibukukan

dalam antologi tunggal.