TIRTA AMARTA
Oleh : Wahyu Inggar Airlangga
Bapak…
Ia bersuara ditidurnya yang baru setengah, tanpa menengadah
Bocah umur tujuh, kurus, ringih, kikuk
Berbaju lusuh, berpeluh darah
Ia rebahkan si tulang muda pada selembar koran
Mengigil ia menggigil, meratap perut, meratap nasib
Dalam renung, dalam tidurnya yang tak kunjung penuh
Bapak… sekali lagi ia bersuara
Dalam gelap yang kian jatuh, ada cinta yang dia rasa
Ada peluk yang dia dekap
Ada bisikan-bisikan manja yang membawanya terlelap
Terlelap untuk tak lagi berucap
Keparat, tak ada sisa roti untuk bocah lusuh
Yang setiap malam menangis disudut jembatan dan mengaduh
Memohon agar dipertemukan dengan bapak
Biar rindunya tak lagi diluruh kapak
Bapak… terakhir dia mengaduh
Bapak didepan mata, peluknya utuh
Hilang derita si tulang muda
Si bocah tak bernyawa.
Yogyakarta, 25 Maret 2022