Jantur Kapang* - Andrey Eka Putra (Peserta LCP 10)

📅 03 April 👁 Memuat...

Jantur Kapang*

Andrey Eka Putra.


Tak ada lagi yang bisa kita kenali dan kenakan, di sana ada tubuh telah terbujur kaku,

kulitnya layu-kalabendu; di sana juga ada asmaraloka sedang diseduh malu-malu sementara

kau melihat gaharu dari bajangratu yang menyidu aroma sembilu.


Percakapan membeku serupa salju,

suam-laksmi-tawa sepakat meranggasmu satu-satu.


Rindu tak mengenal usia, apalagi kasta. Ia menyakitkan ketika orang-orang menimpali

kenangan dengan alunan tembang. Ia pilu ketika narasi liang sedang dikayuh. Ia

menghiburmu ketika bengkalai memoria memberi puadai sebelum ambu kian usai. Tapi

rindu, ‘kan menghilang tanpa tuan saat kau tak tahu bagaimana mengeja rasa yang tertahan.


Maka, nyatakanlah rindumu sebelum ia membanjiri karsa dan meninggalkan bekas separuh

bulan di bawah mata. Kau palingkan wajah ke langit, sebagai tugur di kala bertemu terasa

sempit. Kau menimang kidung panjang, saat kemarin teringat perihal diksi di atas lembar

daun pisang. Kau kirimkan pesan bernada harsa, saat terdampar dalam denyar kosmopolitan

yang tak memantulkan apa-apa selain kesibukan.


Secawan rindu kau pesan bersama robusta yang barangkali memberi penyesalan. Sementara

waktu kian terurai, adhi-adhi sepi ikut bermetrum halai-balai, kita paham bahwa tak ada yang

kekal termasuk rindu. Rindu hanyalah batas keinginan yang terbesit, menerbangkan kau

untuk menghargai momen sendu melalui endapan perasaan yang tak sanggup dilampiaskan.


*Berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya cerita tentang rindu.


Batam, 03 April 2022