Sebuah Asa
Oleh : Meli Rahmawati
Saat masih kecil, Ara sering sekali diberi pertanyaan yang sama oleh Ayah.
"Ara mau jadi apa nanti?"
"Ara mau jadi apa nanti?"
"Ara mau jadi apa nanti?"
Ara juga selalu memberikan jawaban yang sama. "Belum tahu."
Saat itu Ara masih terlalu kecil, jadi dia pikir ketidaktahuannya adalah
hal wajar. Tapi seiring berjalannya waktu, sampai sekarang Ara berusia 17
tahun dan duduk di bangku SMA, dia masih belum menemukan tentang apa
cita-citanya.
"Aku mau jadi orang." Cinta memberikan jawaban saat Ara bertanya tentang
cita-citanya.
"Emang selama ini kamu monyet, Cin?" Hana menyahut. Ara ingin tertawa, tapi
dia sedang tidak dalam keadaan baik untuk tertawa. Jadi dia hanya menghela
napas. "Kamu sendiri mau jadi apa, Ra?"
"Aku?"Pertanyaannya memang sederhana, tapi kenapa menjawabnya sulit sekali?
Ara menggeleng. "Aku gak tau."
"Gak apa-apa, Ra. Semua perlu proses." Hana menenangkan.
Ara pikir 17 tahun sudah lebih dari sebuah proses. "Kamu sendiri mau jadi
apa, Han?"
"Aku mau jadi pengacara," jawab Hana.
Ara ber 'wah' takjub. Hana memiliki keyakinan kuat akan cita-citanya.
Pantas saja gadis itu sangat menyukai pelajaran PPKN. Seringkali ketahuan
membaca dan menghafal pasal-pasal.
"Gimana kalau kamu jadi penyanyi saja, Ra?" Cinta memberi usul. "Suara kamu
kan bagus."
Ara terdiam. Cinta benar, sedikit. Suaranya memang lebih bagus dari suara
Tria—gadis yang suka bernyanyi di kelasnya—tapi tetap saja, menjadi
penyanyi tidak cukup hanya karena punya suara bagus.
"Polwan, mungkin?"
Ara tidak cukup pintar untuk jadi polwan. Bahasa Inggris-nya jelek. Mana
dia kurus dan pendek. Kaki dan tangannya juga tidak mulus.
"Artis?"
Sebelas dua belas dengan penyanyi.
"Dokter?"
Itu adalah cita-cita Ara saat kecil. Tapi menjadi dokter terlalu beresiko.
Terlebih untuk orang ceroboh seperti Ara.
"Pengacara?"
Ara tidak pandai berbicara di depan umum.
"Guru?"
Ara tidak punya kesabaran lebih untuk mengajar anak-anak.
"Ara." Hana memanggil. Ara terhenyak hingga sadar dari lamunannya. "Jangan
memikirkan kekurangan untuk bermimpi. Kalau kamu terus memikirkannya, kamu
tidak akan pernah bisa bermimpi. Karena manusia pasti selalu ada
kurangnya."
••••
"Assalamualaikum, Ayah."
"Waalaikumusalam."
Ayah sedang duduk di ruang tamu saat Ara pulang. Dia segera meraih tangan
Ayah dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Tumben Ayah udah ada di
rumah."
"Ayah kecapean, Ra."
Ara mencelus, ada perasaan aneh muncul di hatinya. "Aku pijitin, ya?"
"Makan dulu."
Ara bergeming, "Ayah masak?"
"Ayah beli nasi bungkus di warung depan," kata Ayah. Beliau kemudian
berbaring di sofa. "Kamu makan dulu. Terus belajar."
Tapi—
"Kamu harus jadi orang sukses biar gak kaya Ayah, Ra." Ayah bicara di
tengah-tengah niatnya untuk terlelap.
••••
Semenjak Ibu meninggal, Ayah jadi kelihatan lebih lelah sepanjang hari.
Sebenarnya Ara tidak tega. Niatan untuk membantu Ayah di kebun sempat dia
ucapkan. Tapi Ayah menolak dengan tegas.
"Tugas anak Ayah cukup belajar. Kamu harus jadi orang sukses." Begitu
katanya.
Beban di pundak Ara terasa sangat berat. Ara tahu tidak seberat beban Ayah.
Tapi rasanya sangat tidak mudah saat kamu menjadi harapan satu-satunya
keluarga. Karena jika gagal, bukan hanya kamu yang merasa sakit dan hancur,
tapi juga orang-orang yang berharap besar kepadamu.
"Ara ada niatan buat kuliah nanti?"
Ara nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia meminum air yang Ayah berikan
sampai tandas sebelum menjawab. "Kayanya enggak."
"Kenapa enggak?"
"Gak papa."
"Terus rencana kamu mau ngapain setelah lulus?"
Ara terdiam cukup lama. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
"Kerja?"
"Kamu harus sekolah tinggi-tinggi, Ra," kata Ayah. "Kalau kamu khawatir
soal biaya, Ayah masih sanggup buat cari uang."
Bukan itu.
Tapi, Ara merasa percuma. Sebab sampai sekarang dia tidak tahu harus
melangkah ke mana untuk mencapai kesuksesan seperti yang Ayah harapkan.
"Ara mau jadi apa nanti?"
Degh!
Ara mencelus.
"Gak perlu jadi orang yang langsung melambung tinggi. Kamu cukup jadi orang
yang mampu menghidupi diri kamu sendiri. Jadi kalau Ayah sudah tidak—"
Ara tidak mau mendengar kelanjutannya lagi. "Iya, Yah. Doain, ya?"
"Pasti."
••••
Andrea Hirata bilang, "Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi."
Sementara Bong Chandra bilang, "Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk
dicapai, yang ada hanya niat yang terlalu rendah untuk melangkah."
Kemudian kasus yang Ara rasakan ini apa?
Dia tidak punya mimpi. Dia tidak punya harapan.
Tunggu.
Aristoteles bilang, mimpi adalah harapan dari seorang yang terjaga. Ara
pernah mengalami itu. Dia pernah sangat berharap bisa kembali bertemu Ibu.
Tapi apa itu juga bisa dibilang sebuah mimpi?
"Ara!"
Ara terhenyak.
"Kamu ngapain ngelamun terus?" Hana memberikan sepotong roti kepada Ara.
Yang langsung gadis itu terima. "Masih tentang mimpi?"
"Aku ngerasa gagal."
"Gagal?"
"Aku gak punya harapan. Aku gak punya mimpi."
Hana menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. "Kamu punya
mimpi, Ra. Cuma kamu belum sepenuhnya percaya akan mimpi itu."
"Apa maksud kamu?"
"Sekarang aku tanya, kamu suka apa?"
Ara berfikir sejenak, "Aku suka banyak hal."
"Sebutin."
"Menulis, menyanyi, memasak ...?"
"Itu bisa jadi mimpi kamu," ujar Hana penuh semangat. "Kamu bisa jadi
seorang penyanyi, penulis, pengusaha kuliner dan lain-lain."
"Ta—"
"Gak ada mimpi yang terlalu tinggi, cuma rasa percaya diri kamu aja yang
rendah, Ra."
Hana benar. Gadis itu selalu benar. Pengacara adalah cita-cita yang cocok
untuk seorang Hana Rafian.
Ara sudah memutuskan. Dia akan mengejar mimpinya mulai sekarang.
••••
"Ayah!"
Ara membawakan bekal makan siang untuk Ayah ke kebun. Matahari benar-benar
terik. Ara tersenyum saat Ayah yang sedang mencangkul melambaikan tangan.
Lalu berjalan mendekat ke gubuk yang sudah lebih dulu Ara tempati.
"Tumben kamu ke sini, Ra."
Itu terdengar seperti Ara adalah anak tidak tahu diri. "Maaf ya, Yah."
Ayah tidak menjawab.
"Ayah," panggil Ara. "Ara sudah punya mimpi."
Ayah berhenti menyuap nasi ke mulutnya, beliau menatap Ara lekat. "Mimpi?"
"Ara mau membahagiakan Ayah."
Hening.
Ayah kemudian tersenyum manis. "Ayah sudah bahagia, Ra."
"Belum," kata Ara. "Ara mau Ayah berhenti kerja. Ara gak mau Ayah lelah.
Biar Ara yang kerja buat Ayah."
Ayah tidak menjawab. Tapi matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ayah bilang, Ara harus jadi orang sukses, kan? Sukses buat Ara adalah
kebahagiaan Ayah dan orang-orang sekitar Ara. Jadi, Ara mohon doanya ya,
Ayah."
••••
"Sejak kapan kamu nulis buku ini, Ra?"
Ara terhenyak saat suara Cinta yang melengking memasuki telinganya. "Buku
apa?"
"Ini?"
Kisah Perjuangan Ibu.
Itu cerita pertama yang iseng Ara tulis di media sosial. Awalnya hanya
sebagai wadah kerinduannya kepada Almarhumah Ibunya. Siapa yang menyangka
cerita itu menarik seorang penerbit.
"Udah lama," jawab Ara santai.
Hana mendekat sementara Cinta sibuk mengomel. "Jadi kamu udah nentuin mimpi
kamu, Ra?"
Ara mengangguk. "Berkat kamu, Hana."
Hana tersenyum manis.
Itu bagus. "Jadi ... kamu mau jadi apa, Ra?"
Ara tersenyum misterius. Pertanyaan Hana akan dia jawab setelah semuanya
terwujud. Itu akan lebih menakjubkan.
"Ara! Kamu gila?!"
Itu dia.
"Ini Ara Indriyani beneran? Kamu?"
Ara mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu. Sementara layar ponsel Cinta
sedang menayangkan sebuah Q&A para pemain film dengan Ara di
dalamnya.
"Jadi kamu mau jadi penulis?" Hana bertanya.
"Aku mau jadi semua yang aku bisa," sahut Ara. "Penulis, pemain film,
produser, penyanyi, dan orang yang memberi inspirasi."
"Publik figur?"
Ara mengangguk. Hana memberikan dua jempolnya.
Mimpi adalah saat kamu berani memulai dengan hal kecil. Nyatanya, Ara
adalah gadis tanpa mimpi yang kemudian berani memulai. Dan tentu saja,
berani untuk gagal sebelum keberhasilan.
Sebuah Asa
Oleh : Meli Rahmawati
Saat masih kecil, Ara sering sekali diberi pertanyaan yang sama oleh Ayah.
"Ara mau jadi apa nanti?"
"Ara mau jadi apa nanti?"
"Ara mau jadi apa nanti?"
Ara juga selalu memberikan jawaban yang sama. "Belum tahu."
Saat itu Ara masih terlalu kecil, jadi dia pikir ketidaktahuannya adalah
hal wajar. Tapi seiring berjalannya waktu, sampai sekarang Ara berusia 17
tahun dan duduk di bangku SMA, dia masih belum menemukan tentang apa
cita-citanya.
"Aku mau jadi orang." Cinta memberikan jawaban saat Ara bertanya tentang
cita-citanya.
"Emang selama ini kamu monyet, Cin?" Hana menyahut. Ara ingin tertawa, tapi
dia sedang tidak dalam keadaan baik untuk tertawa. Jadi dia hanya menghela
napas. "Kamu sendiri mau jadi apa, Ra?"
"Aku?"Pertanyaannya memang sederhana, tapi kenapa menjawabnya sulit sekali?
Ara menggeleng. "Aku gak tau."
"Gak apa-apa, Ra. Semua perlu proses." Hana menenangkan.
Ara pikir 17 tahun sudah lebih dari sebuah proses. "Kamu sendiri mau jadi
apa, Han?"
"Aku mau jadi pengacara," jawab Hana.
Ara ber 'wah' takjub. Hana memiliki keyakinan kuat akan cita-citanya.
Pantas saja gadis itu sangat menyukai pelajaran PPKN. Seringkali ketahuan
membaca dan menghafal pasal-pasal.
"Gimana kalau kamu jadi penyanyi saja, Ra?" Cinta memberi usul. "Suara kamu
kan bagus."
Ara terdiam. Cinta benar, sedikit. Suaranya memang lebih bagus dari suara
Tria—gadis yang suka bernyanyi di kelasnya—tapi tetap saja, menjadi
penyanyi tidak cukup hanya karena punya suara bagus.
"Polwan, mungkin?"
Ara tidak cukup pintar untuk jadi polwan. Bahasa Inggris-nya jelek. Mana
dia kurus dan pendek. Kaki dan tangannya juga tidak mulus.
"Artis?"
Sebelas dua belas dengan penyanyi.
"Dokter?"
Itu adalah cita-cita Ara saat kecil. Tapi menjadi dokter terlalu beresiko.
Terlebih untuk orang ceroboh seperti Ara.
"Pengacara?"
Ara tidak pandai berbicara di depan umum.
"Guru?"
Ara tidak punya kesabaran lebih untuk mengajar anak-anak.
"Ara." Hana memanggil. Ara terhenyak hingga sadar dari lamunannya. "Jangan
memikirkan kekurangan untuk bermimpi. Kalau kamu terus memikirkannya, kamu
tidak akan pernah bisa bermimpi. Karena manusia pasti selalu ada
kurangnya."
••••
"Assalamualaikum, Ayah."
"Waalaikumusalam."
Ayah sedang duduk di ruang tamu saat Ara pulang. Dia segera meraih tangan
Ayah dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Tumben Ayah udah ada di
rumah."
"Ayah kecapean, Ra."
Ara mencelus, ada perasaan aneh muncul di hatinya. "Aku pijitin, ya?"
"Makan dulu."
Ara bergeming, "Ayah masak?"
"Ayah beli nasi bungkus di warung depan," kata Ayah. Beliau kemudian
berbaring di sofa. "Kamu makan dulu. Terus belajar."
Tapi—
"Kamu harus jadi orang sukses biar gak kaya Ayah, Ra." Ayah bicara di
tengah-tengah niatnya untuk terlelap.
••••
Semenjak Ibu meninggal, Ayah jadi kelihatan lebih lelah sepanjang hari.
Sebenarnya Ara tidak tega. Niatan untuk membantu Ayah di kebun sempat dia
ucapkan. Tapi Ayah menolak dengan tegas.
"Tugas anak Ayah cukup belajar. Kamu harus jadi orang sukses." Begitu
katanya.
Beban di pundak Ara terasa sangat berat. Ara tahu tidak seberat beban Ayah.
Tapi rasanya sangat tidak mudah saat kamu menjadi harapan satu-satunya
keluarga. Karena jika gagal, bukan hanya kamu yang merasa sakit dan hancur,
tapi juga orang-orang yang berharap besar kepadamu.
"Ara ada niatan buat kuliah nanti?"
Ara nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia meminum air yang Ayah berikan
sampai tandas sebelum menjawab. "Kayanya enggak."
"Kenapa enggak?"
"Gak papa."
"Terus rencana kamu mau ngapain setelah lulus?"
Ara terdiam cukup lama. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
"Kerja?"
"Kamu harus sekolah tinggi-tinggi, Ra," kata Ayah. "Kalau kamu khawatir
soal biaya, Ayah masih sanggup buat cari uang."
Bukan itu.
Tapi, Ara merasa percuma. Sebab sampai sekarang dia tidak tahu harus
melangkah ke mana untuk mencapai kesuksesan seperti yang Ayah harapkan.
"Ara mau jadi apa nanti?"
Degh!
Ara mencelus.
"Gak perlu jadi orang yang langsung melambung tinggi. Kamu cukup jadi orang
yang mampu menghidupi diri kamu sendiri. Jadi kalau Ayah sudah tidak—"
Ara tidak mau mendengar kelanjutannya lagi. "Iya, Yah. Doain, ya?"
"Pasti."
••••
Andrea Hirata bilang, "Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi."
Sementara Bong Chandra bilang, "Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk
dicapai, yang ada hanya niat yang terlalu rendah untuk melangkah."
Kemudian kasus yang Ara rasakan ini apa?
Dia tidak punya mimpi. Dia tidak punya harapan.
Tunggu.
Aristoteles bilang, mimpi adalah harapan dari seorang yang terjaga. Ara
pernah mengalami itu. Dia pernah sangat berharap bisa kembali bertemu Ibu.
Tapi apa itu juga bisa dibilang sebuah mimpi?
"Ara!"
Ara terhenyak.
"Kamu ngapain ngelamun terus?" Hana memberikan sepotong roti kepada Ara.
Yang langsung gadis itu terima. "Masih tentang mimpi?"
"Aku ngerasa gagal."
"Gagal?"
"Aku gak punya harapan. Aku gak punya mimpi."
Hana menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. "Kamu punya
mimpi, Ra. Cuma kamu belum sepenuhnya percaya akan mimpi itu."
"Apa maksud kamu?"
"Sekarang aku tanya, kamu suka apa?"
Ara berfikir sejenak, "Aku suka banyak hal."
"Sebutin."
"Menulis, menyanyi, memasak ...?"
"Itu bisa jadi mimpi kamu," ujar Hana penuh semangat. "Kamu bisa jadi
seorang penyanyi, penulis, pengusaha kuliner dan lain-lain."
"Ta—"
"Gak ada mimpi yang terlalu tinggi, cuma rasa percaya diri kamu aja yang
rendah, Ra."
Hana benar. Gadis itu selalu benar. Pengacara adalah cita-cita yang cocok
untuk seorang Hana Rafian.
Ara sudah memutuskan. Dia akan mengejar mimpinya mulai sekarang.
••••
"Ayah!"
Ara membawakan bekal makan siang untuk Ayah ke kebun. Matahari benar-benar
terik. Ara tersenyum saat Ayah yang sedang mencangkul melambaikan tangan.
Lalu berjalan mendekat ke gubuk yang sudah lebih dulu Ara tempati.
"Tumben kamu ke sini, Ra."
Itu terdengar seperti Ara adalah anak tidak tahu diri. "Maaf ya, Yah."
Ayah tidak menjawab.
"Ayah," panggil Ara. "Ara sudah punya mimpi."
Ayah berhenti menyuap nasi ke mulutnya, beliau menatap Ara lekat. "Mimpi?"
"Ara mau membahagiakan Ayah."
Hening.
Ayah kemudian tersenyum manis. "Ayah sudah bahagia, Ra."
"Belum," kata Ara. "Ara mau Ayah berhenti kerja. Ara gak mau Ayah lelah.
Biar Ara yang kerja buat Ayah."
Ayah tidak menjawab. Tapi matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ayah bilang, Ara harus jadi orang sukses, kan? Sukses buat Ara adalah
kebahagiaan Ayah dan orang-orang sekitar Ara. Jadi, Ara mohon doanya ya,
Ayah."
••••
"Sejak kapan kamu nulis buku ini, Ra?"
Ara terhenyak saat suara Cinta yang melengking memasuki telinganya. "Buku
apa?"
"Ini?"
Kisah Perjuangan Ibu.
Itu cerita pertama yang iseng Ara tulis di media sosial. Awalnya hanya
sebagai wadah kerinduannya kepada Almarhumah Ibunya. Siapa yang menyangka
cerita itu menarik seorang penerbit.
"Udah lama," jawab Ara santai.
Hana mendekat sementara Cinta sibuk mengomel. "Jadi kamu udah nentuin mimpi
kamu, Ra?"
Ara mengangguk. "Berkat kamu, Hana."
Hana tersenyum manis.
Itu bagus. "Jadi ... kamu mau jadi apa, Ra?"
Ara tersenyum misterius. Pertanyaan Hana akan dia jawab setelah semuanya
terwujud. Itu akan lebih menakjubkan.
"Ara! Kamu gila?!"
Itu dia.
"Ini Ara Indriyani beneran? Kamu?"
Ara mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu. Sementara layar ponsel Cinta
sedang menayangkan sebuah Q&A para pemain film dengan Ara di
dalamnya.
"Jadi kamu mau jadi penulis?" Hana bertanya.
"Aku mau jadi semua yang aku bisa," sahut Ara. "Penulis, pemain film,
produser, penyanyi, dan orang yang memberi inspirasi."
"Publik figur?"
Ara mengangguk. Hana memberikan dua jempolnya.
Mimpi adalah saat kamu berani memulai dengan hal kecil. Nyatanya, Ara
adalah gadis tanpa mimpi yang kemudian berani memulai. Dan tentu saja,
berani untuk gagal sebelum keberhasilan.