Arti Sebuah Kehilangan ( Mimpi Yang Tertunda ) - Ratih Mulyani,S.Pd.I (LCPC 14 Cerpen)

 


Arti Sebuah Kehilangan

( Mimpi Yang Tertunda )

Penulis : Ratih Mulyani,S.Pd.I


“Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakanNya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian."

Rumah Sakit Umum Cut Mutia, Lhokseumawe, 14 Juni 2020

“Kok detak jantungnya ngga terdeteksi ya?” Ujar dokter Nila sambil menggerak-gerakkan alat usg intravagina dengan tangannya ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari detak jantung janin di rahim Nisa. Matanya fokus memandang ke arah layar monitor.

“Tuh, lihat garisnya lurus. Harusnya kalau ada detak jantung, terbentuk grafik naik turun”

Nisa dan suaminya terdiam sambil terus memperhatikan hasil USG di layar, berharap ada garis naik turun di sana. Tidak ada perubahan. Pun ketika dokter Nila mengubah posisi alatnya, garis yang ditunjukkan dokter Nila tetap lurus.

“Tidak ada detak jantung atau mungkin masih belum terdeteksi, dokter?” Tanya Nisa cemas.

“Saat ini umur kehamilan ibu sebelas minggu, harusnya sih sudah ada. Tapi ini belum terlihat. Dari ukurannya juga kurang normal, karena ini ukuran janin tujuh minggu. Kalau prediksi saya janinnya sudah tidak ada..”

Deg.

Pernyataan dokter Nila barusan sulit untuk ia percaya.

Pagi itu, Nisa dan suaminya, Rizal, pergi bersama ke rumah sakit untuk melihat pertumbuhan janin yang ada di rahim Nisa. Bahkan mereka telah mempersiapan sebuah nama untuk putra mereka kelak. Seorang putra yang mereka tunggu kehadirannya. "GAZA YAARA NUFAIL", nama yang telah mereka simpan. Ya, pagi tadi semua cerah. Tapi siapa yang dapat mengira skenarioNya?

“Coba kita tunggu dua minggu lagi ya bu, mungkin saja ada perkembangan. Kalau sebelum dua minggu itu terjadi pendarahan, segera ke rumah sakit” tambah dokter Nila.

Nisa dan Rizal menayakan beberapa kemungkinan mengenai janin mereka.

“Terimakasih dokter” Ucap Nisa dan Rizal seusai mendengar seluruh penjelasan dari dokter Nila.

Suasana hening. Nisa dan Rizal beranjak dari ruang periksa, menyelesaikan administrasi, dan bersiap untuk menuju tempat kerjanya masing-masing. Perjalanan dari rumah sakit menuju kantor dilalui pasangan itu dengan diam seribu bahasa. Sesekali Rizal mengusap-usap lengan Nisa.

Sesampainya di kantor. Nisa menyalami tangan Rizal. Seperti ada yang tercekat di lehernya, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Nisa.

“Semangat de!” Ucap Rizal sambil tersenyum dan menggenggam kuat lengan Nisa. “Dikuatin lagi ibadahnya” ucap Rizal sebelum akhirnya mereka berpisah pagi itu.

Nisa melangkahkan kakinya memasuki kantor. Seusai meletakkan tasnya, Nisa menaiki lift ke lantai 6, menuju masjid. Ia mengambil wudhu; melaksanakan shalat dhuha; memohon ampun atas setiap kekhilafan yang ia buat, nikmat-nikmat Allah yang mungkin belum sepenuhnya disyukurinya, dosa-dosanya yang ia lakukan baik yang tampak maupun tersembunyi. Berkali-kali istigfar terucap dari lidahnya. Setetes demi setetes air mata menetes di pipi Nisa tertampar-tampar angin pagi itu.

Ya, semua punya Allah dan untuk mencapai ridha Allah. Nisa hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk janin yang ada di rahimnya.

Sekembalinya Nisa ke ruangannya, Ia menerima sebuah pesan singkat dari Rizal:

Dek mungkin tadi alatnya rusak ๐Ÿ˜€

Kita semua milik Allah. Allah kuasa menghidupkan yang mati, dan mematikan yang hidup ๐Ÿ™‚

Mungkin ini cara Allah untuk menyentil hati kita agar kembali rindu padaNya ๐Ÿ™‚

Aku sayang kamu, dan semua kebaikan melekat pada dirimu. Termasuk kebaikan yang Allah sisipkan di janin yang ada di rahimmu, yang Allah genggam kuat takdirnya ๐Ÿ™‚

Kalimat demi kalimat yang dikirim suaminya kembali menumbuhkan kepercayaan Nisa. Ia masih harus tetap optimis janin di dalam rahimnya bisa dipertahankan. Masih ada waktu dua minggu lagi untuk berikhtiar dan berdo’a.

Usia seperti jalan setapak

yang setiap hari kita lalui

kita senantiasa mengingat apa yang sudah dilewati

dan tetap saja menerka-nera

apa yang bakal terjadi.

Madrasah, 25 Juni 2020.

Siang itu menjelang dzuhur, Nisa merasakan mulas di perut bagian bawahnya. Rasa yang familiar seperti sedang akan datang bulan. Hampir seminggu berlalu sejak kontrol terakhir kemarin. Waktu seminggu yang membuatnya cukup was-was. Hampir setiap kali ke kamar kecil, ada perasaan khawatir dalam benak Nisa kalau tiba-tiba saja ada flek atau darah. Dan benar saja, sesuatu yang tidak diharapkannya itu terjadi, darah berwarna merah kehitaman keluar dari rahim Nisa. Nisa mencoba menenangkan diri dan mengabari Rizal.

Rizal yang saat itu sedang bekerja di kantornya bersegera menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak menjemput Nisa. Mereka pulang ke rumah untuk berdiskusi dengan bapak, beristirahat sejenak, sambil menunggu waktu Ashar. Rizal segera menghubungi pihak rumah sakit untuk membuat janji periksa dengan dokter kandungan yang berjaga sore itu. Setelah Ashar, Nisa ditemani Rizal dan Bapak pergi ke rumah sakit.

Sebab tak ada peristiwa dunia sekecil apapun,

Yang tak tercatatat di buku besarNya.

RS Abby, 25 Juni 2020

Pukul 17:00, Nisa dipanggil ke ruang dokter. Dokter kandungan yang bertugas sore itu adalah dokter Cut. Setelah menanyakan beberapa hal terkait kondisi kandungan Nisa dan kronologis kejadian siang tadi, dr. Cut segera melakukan pemeriksaan USG Intravagina.

“Dilihat dari janinnya, ini lebih kecil dari yang minggu lalu. Kemudian dari kantung kehamilannya, sekarang sudah tidak sempurna lagi. Di beberapa titik sudah terlihat adanya peluruhan” Ujar dokter Cut menjelaskan sambil mengamati USG di layar

“Jadi, sebaiknya.. bagaimana dokter?” Tanya Nisa. Seluruh indranya mencoba menasbihkan kesucian dan kebesaran Allah, mencegah agar air matanya tidak menetes

“Keputusannya saya serahkan kepada bapak dan ibu. Tapi, kalau saran saya, ini harus segera dikeluarkan. Karena janinnya sudah tidak ada dan menjadi benda asing di dalam tubuh. Secara fisiologis, tubuh akan berusaha mengeluarkannya, paling lama benda asing berada di dalam tubuh itu dua minggu. Jika sudah lebih dari dua minggu justru akan membahayakan tubuh” Jelas dokter Cut.

“Proses pengeluarannya itu bagaimana dokter?” Tanya Rizal kepada dokter Selly

“Prosesnya bisa dengan dua cara. Pertama, langsung dibersihkan dengan dikuret. Kedua, dengan menggunakan obat peluruh. Dilihat dari kantung kehamilannya yang sudah cukup besar, dengan obat peluruh prosesnya agak lama, dan dikhawatirkan tidak bersih.”

Setelah berdiskusi. Nisa dan Rizal akhirnya sepakat untuk melakukan kuretase.

Dokter Cut kemudian menjelaskan persiapan menjelang kuret hingga proses kuretase yang akan dilaksanakan malam itu hingga besok pagi, kemudian membuatkan surat untuk persiapan ruang operasi dan tim medis.

“Kalau Nisa sudah yakin, sudah jangan pikirkan apa-apa lagi. Sekarang masih ada waktu sampai jam 8 malam, lebih baik pulang, istirahat, dan makan malam di rumah dulu. Nanti balik lagi ke sini” Ujar Bapak menenangkan.

Mudah-mudahan Nisa diberi kesabaran. Apapun yang terjadi, sudah kehendak Yang Kuasa. Ibu selalu berdoa untuk Nisa, juga untuk suami

Sebuah pesan juga diterima Nisa dari ibunya.

Pesan demi pesan lain, mulai masuk dari keluarga dan teman-teman Nisa. Berisi do’a-do’a dan ucapan semangat. Bersyukur atas nikmatNya yang terus terulur. Dalam kondisi sakit seperti itu, rahmatNya terwujud melalui kasih sayang orang-orang di sekeliling. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang dalam semua situasi.

RSU Cut Mutia, Lhokseumawe, pukul 9 malam

Nisa sudah kembali lagi ke rumah sakit. Bersiap untuk pemasangan alat. Sebelum dipasang alat, perawat terlebih dahulu mengukur tekanan darah dan rekam jantung, juga mengambil sampel darah Nisa untuk diperiksa pembekuan darahnya. Setelah pemasangan infus dan menunggu beberapa saat di ruang rawat, Jam 10 malam proses pemasangan alat dimulai. Nisa dibawa ke sebuah ruangan khusus bersama dua orang perawat, Rizal diminta untuk menunggu di luar.

Luminaria. Itu adalah nama alat yang dipasang di mulut rahim. Bentuknya seperti batang tusuk gigi, namun akan membesar, karena alat itu menyerap air yang keluar dari rahim. Fungsinya untuk membuka mulut rahim agar proses kuret bisa dilakukan. Lama pemasangannya dua belas jam sebelum proses kuret.

“Aduuh.. sakiit susteer” Nisa mengerang kesakitan.

“Iya bu, tahan sedikit ya..” Ujar sang perawat sambil terus berusaha memasukkan alat

“Susteeer.. sakiit.. itu lagi luka, jangan didorong keras-keras..” Nisa masih terus mengerang kesakitan.

“Sedikiiit lagi bu, ibu tarik nafas yang dalam, keluarkan. Jangan mengejan ya, nanti alatnya keluar lagi. Tadi sebenernya udah masuk tapi keluar lagi” komando sang perawat

Setelah 30 menit, akhirnya proses pemasangan luminaria selesai juga. Nisa kembali dibawa ke ruang rawat inap.

“Ibu istirahat ya malam ini. Dan sampai besok dikuret harus puasa dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa tinggal tekan tombol di sebelah tempat tidur” Ujar perawat sebelum meninggalkan Nisa dan Rizal di ruang rawat.

Detik-detik berlalu. Suasana sepi. Hanya beberapa perawat yang sesekali melintas, dan suara bayi yang baru lahir dari ruangan sebelah yang memecah keheningan malam. Mata Nisa belum juga bisa terpejam malam itu, ia masih merasakan kontraksi di rahimnya dan darah yang perlahan-lahan mulai merembes. Hatinya basah.

Nisa membangunkan Rizal yang sudah terlelap kelelahan.

“Kak, sakiit..” entah sudah berapa kali Nisa mengerang kesakitan. Dengan sabar, Rizal bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Nisa, mengusap usap punggung belakang Nisa untuk menghilangkan nyeri yang dirasakannya.

“Dek, sakitnya cuma malam ini aja kok, besok udah ngga sakit lagi. Setiap malam kita bisa tidur nyenyak tanpa ngerasa sakit. Ini cuma semalam aja. Berarti nikmat Allah itu lebih banyak kan? :)”

Nisa mengangguk

“Kak, dedenya udah ngga ada ya?” Nisa menangis di pelukan Rizal “Sambil dzikir, dek” Ucap Rizal lirih

Subhanallah.. Walhamdulilllah.. Wa laa ilaa ha illallahu Allahu Akbar.

Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nasiir..

Sampai tengah malam Nisa belum juga bisa memejamkan matanya, tapi ia enggan untuk membangunkan Rizal lagi. Melihat suaminya sudah sangat terlihat lelah seharian ini mondar-mandir mengurusinya di rumah sakit.

Nisa menatap wajah Rizal yang terlelap. Sifatnya yang penyabar dan selalu bersyukur membuat Nisa terkagum dan belajar banyak dari Rizal. Pernah suatu kali Nisa bertanya pada Rizal tentang perasaan Rizal selama menemani ibu terbaring sakit parah di rumah sakit. Rizal ketika itu sama sekali tidak menyebutkan bagaimana rasanya, ia hanya menjawab, “Rasanya.. hmm, ya gitu. Berdo’a”, Betapa indahnya Rizal mendefinisikan sebuah rasa dengan do’a. Ya, bukankah memang itu kata yang paling tepat untuk mendefinisikan sebuah rasa. Batapa sakit perasaan ketika diuji hanya Allah yang tau, Karena Allah yang menciptakan segala rasa, dan hanya kepadaNyalah kita mengembalikan semua rasa, lewat do’a. Allah, betapa banyak nikmat yang Dia berikan. Cinta yang dipersembahkan lelaki penyabar, yang tidak pernah mengeluh itu sempurna padanya.

Ruang Arham 1. Keesokan paginya

Adzan shubuh berkumandang, Nisa membangunkan Rizal untuk mengantarnya berwudhu. Setelah mengantarkan Nisa, dan membantu Nisa kembali ke ranjang untuk melaksanakan shalat, Rizal beranjak ke mushalla rumah sakit. Nyeri yang dirasakan Nisa sejak semalam belum juga hilang, darah sudah merembes cukup banyak di kain alas ranjangnya. Rizal belum juga kembali dari mushala. Nisa merasakan seluruh tubuhnya lemas, ia lupa kalau selama pemasangan alat dari pukul 11 malam sampai nanti proses kuret ia harus berpuasa.

Tanpa sadar, Nisa meminum seteguk air.

Ruang Operasi, Pukul 10.00 WIB

Dokter Sri, yang bertugas sebagai dokter anestesi menghampiri Nisa yang sudah terbaring di ranjang operasi.

“Kita kan do’anya yang baik-baik ya bu. Minta ke Allah anak yang baik. Kalau janin yang ada di rahim kita ini nanti berkembangnya ngga sehat dan ngga baik, ya sama Allah ngga jadi dikasih dulu. Karena sesuai dengan do’a kita: mintanya anak yang baik, iya kan?”

Nisa menganggukkan kepala sambil tersenyum. Teringat do’a yang ia lantunkan di setiap sehabis shalat tarawih bulan Ramadhan tahun ini,

Robbi habli miladunka dzuriyattan thayibbah. Innaka sami’ud du’a

(Ali Imran: 28)

Ya Tuhanku berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Do’a

Ya, Nisa tak meragukan itu. Allah yang mengetahui kondisi perkembangan janin yang tumbuh dalam rahimnya. Allah yang Maha Mendengar Do’a. Yang Maha Menepati janjiNya.

“Ibu, dari semalam makan ngga?” Tanya dokter Sri sebelum menyuntikkan obat bius

“Ngga dokter”

“Roti?”

“Ngga,”

“Risol?”

“Ngga”

“Telor”

“Ngga dokter :)”

“Hehe, iya bu. Habis orang Indonesia kan suka begitu. Kalau ditanya udah makan atau belum bilangnya belum. Tapi ditanyain rinciannya tau-tau udah makan roti atau risol.

Terakhir saya mau bius seorang ibu, pas ditanya sudah makan atau belum? Jawabnya belum. Tapi pas ditanya rinciannya, ketauan makan telor. Berapa? Tanya saya lagi. Jawabnya sedikit. Saya Tanya sedikitnya berapa? Eeh dua :D” Cerita dokter Sri.

Nisa tersenyum. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing dan ruangan operasi itu menjadi putih..

“Sudah tidak sadar. Bisa dimulai” suara samar terakhir dr. Sri yang bisa didengar jelas oleh Nisa. Karena beberapa menit kemudian ia sudah tidak sadarkan diri. Yang Nisa rasakan saat itu hanya ada kotak-kotak yang berlalu di depannya. Dari satu kotak ke kotak-kotak lainnya. Nisa merasakan sakit, tapi ia tak bisa mendefinisikan bahwa yang sakit itu rahim atau bagian tubuh yang mana. Terdengar bermacam suara samar yang sama sekali tidak dimengertinya.

Beginikah rasanya tidak sadar? Nisa bahkan tak bisa merasakan dan mendefinisikan sosok tubuhnya sebagai manusia. Nisa tidak tahu ia berada dimana. Di sekelilingnya hanya ada kotak dan kotak, ia berjalan dari satu kotak ke satu kotak lain, kemudian menjadi salah satu bagian dari kotak itu…

Ruang operasi mendadak menjadi tegang.

Nisa, dalam kondisi tidak sadar mengeluarkan banyak cairan hijau dari mulutnya. Dokter Sri segera memberi instruksi kepada asistennya dan juga dokter Nila untuk menyadarkan Nisa.

“Tapi dokter, kerjaan saya belum selesai” Ujar dokter Nila panik

“Tapi, ibu ini muntah dalam keadaan tidak sadar. Cairan lambungnya sudah banyak keluar. Harus segera

dibangunkan, kalau tidak bisa membahayakan nyawa”

Akhirnya ditengah proses kuret, Nisa dibangunkan.

Kotak demi kotak yang sejak tadi mengelilinginya mendadak menjadi samar, kemudian sedikit demi sedikit menjadi jelas. Ruang Operasi. Kepala Nisa masih terasa sangat pusing. Ia merunut kembali kejadian sejak kemarin siang.. Ia masih bisa mengingat semuanya, tapi badannya terasa sangat lemas..”

“Ibu, bangun bu” Asisten dokter Sri menepuk nepuk pipi Nisa, berusaha membuatnya tetap sadar

“Iya?” Mata Nisa sedikit terbuka

“Ibu Minum ya?” Tanyanya kemudian

“Iya..”

“Ha? Jam berapa Bu?”

“Iya.. Jam lima..”

“Waduh.. kok ibu tadi ngga bilang?”

“Udah bilang tadi pagi sama suster..”

Nisa merasakan kepalanya sangat pusing dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan asisten dokter itu seperti orang mabuk, tapi semua jawabannya jujur. Sel-sel syaraf Nisa belum sepenuhnya sadar. Ia tidak tahu apa yang menggerakkan lidahnya tiba-tiba saja menjawab dengan benar. Begitukah di hari kebangkitan kelak? Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah untuk selalu bertindak benar. Sehingga anggota tubuh yang bersaksi atas tindakan kita, bersaksi tentang kebaikan..

Alhamdulillah kuretase selesai pukul 11.00.

Sambil menunggu kesadarannya pulih, Nisa diminta berbaring di ruang operasi. Pukul 12.00 Nisa mulai sadar, meskipun ketika akan duduk di kursi roda untuk dibawa kembali ke ruang rawat ia masih sempat muntah-muntah. Nisa, dibawa oleh perawat ditemani Rizal dan Bapak menuju ruang rawat inap. Dokter menyarankan Nisa tidak langsung makan jika masih merasa mual. Selama dua jam kemudian, Nisa terlelap di ruang rawat inap. Pukul setengah dua siang, ia baru sepenuhnya merasa pulih dan tidak lagi merasakan mual. Rizal menyiapkan makan siang dan obat untuk Nisa.

Sore harinya, Nisa kembali menemui dokter Nila untuk USG.

“Hayoo, ibu nakal ya.. minum. Untung ngga kenapa-kenapa” ledek dokter Nila

“Iya dokter, saya sama sekali ngga inget waktu minum. Ingetnya perutnya mules, lemes, haus, terus minum.”

“Sekarang masih kerasa sakit ngga?”

“Alhamdulillah ngga dokter :)”

“Dari hasi USG, rahim ibu sudah bersih. Ini ada garis-garis putih tandanya otot rahimnya sudah mulai tersambung. Ibu harus banyak istirahat ya” Jelas dokter Selly

“Iya dokter, terimakasih”

Malam itu juga Nisa sudah diizinkan pulang ke rumah.

Saat kita kehilangan, hal pertama yang perlu kita cari adalah prasangka baik kita. Jangan sampai ia ikut hilang bersama kehilangan kita. Saat kita menemukan prasangka baik ketika kehilangan, ada ganti yang lebih baik telah dijanjikan Allah.

Nisa mengelus perutnya yang sudah tidak lagi berisi. Allah Maha Pemutus yang Terbaik lagi Maha Bijaksana, ia tak ingin mencoba mendikte Allah dalam kehidupannya. Apa yang telah Allah takdirkan pada janinnya adalah sebuah pelajaran baginya dan suaminya untuk lebih mencintaiNya lagi.

Hari itu, sebuah awal telah Allah perkenanan baginya dan suaminya. Sebuah awal baru yang Allah berikan pada mereka dalam perjalanan menuju titik akhir.

Allahu Al ‘alim… Hanya Dia yang Maha Tahu.

Aceh Utara, Agustus 2020

Mensyukuri berarti menjaga, merawat, mendidik, membangun kelayakan demi kelayakan hingga masanya tiba…

Posting Komentar untuk "Arti Sebuah Kehilangan ( Mimpi Yang Tertunda ) - Ratih Mulyani,S.Pd.I (LCPC 14 Cerpen)"