Cita-cita Dan Takdir
Nama Penulis: Faisal Hidayah
Namaku Nathan Firmansyah, seorang mahasiwa semester akhir prodi akutansi,
yang saat ini kuliah masih dalam keadaan libur dua bulan sebelum pergantian
semester. Dalam masa libur, aku berkerja sebagai magang di Bank Manisha.
Hari ini adalah hari pertama dimana aku mendapatkan gaji bulan pertama dari
hasil bekerja di sebuah Bank sebagai anak magang. Walaupun gajinya tidak
banyak, aku merasa itu sepandan dengan status pekerjaanku dan itu tidak
membuatku menyerah untuk bekerja. Untuk menggapaikan cita-citaku sebagai
Manager Bank, aku harus bekerja keras untuk mencari uang agar aku bisa
terus melanjutkan studi kuliahku. Aku tidak malu ditertawakan oleh
teman-temanku, karena aku tahu aku hanya bisa menerimanya. Sangat
disayangkan aku masih belum bisa lulus beasiswa untuk melanjutkan S2,
padahal sudah berkali-kali aku mendaftar tetapi masih belum bisa
mendapatkan bantuan beasiswa. Aku tahu itu karena aku belum mempunyai
prestasi, sehingga tidak memungkinkan untuk lulus, karena salah satu
persyaratan utamanya adalah mempunyai prestasi. Tetapi aku tidak pantang
menyerah, tetap semangat belajar dan bekerja keras.
Keesokan harinya aku tidak bekerja, karena hari ini adalah hari minggu. Aku
pergi ke suatu tempat untuk beristirahat menikmati lingkungan alam.
Tepatnya aku menikmati pemandangan di sebuah taman bermain.
Waktu terus berjalan kini langit berubah menjadi kuning. Karena sudah sore
hari, aku pun beranjak pulang.
Ketika diperjalanan pulang, aku menemukan sebuah spanduk di jalan raya. Aku
melihat ada sebuah lomba cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh
pihak eventmenulisnasional, aku membaca isi-isinya dengan cermat. Aku
merasa tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Aku memfotokannya, lalu aku
pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk
lomba tersebut.
Malam harinya tiba tepat pada pukul jam 19:23 pm, aku telah menyelesai
kegiatan pekerjaan rumah, lalu aku mencari ide untuk cerpen yang aku buat.
Setelah satu jam memikirkannya, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide untuk
membuat cerpen. Proses membuat cerpen, aku hanya membutuhkan waktu dua
puluh menit.
Semuanya sudah siap, segera setelah itu aku mengirimkan semua berkas-berkas
yang diperlukan dalam pengumpulan lomba cerpen tersebut. Sekitar sepuluh
hari lagi untuk menunggu pengumuman hasil pemenang lomba tersebut. Aku
berharap untuk bisa memenangkan lomba itu agar bisa menjadi salah satu
prestasiku. Harapan tidak bisa selalu terpenuhi, apapun hasilnya aku tetap
harus bersyukur dan menerimanya.
Hari telah berganti, hari ini aku mulai pergi bekerja kembali di Bank.
"Pagi Nath" sapa salah satu karyawan wanita muda yang cantik kepadaku.
"Pagi juga Cel" jawabku sambil tersenyum.
Cely Manisha juga merupakan salah satu karyawan magang yang bekerja sebagai
teller di bank itu. Wanita itu baik, dan juga karyawan wanita yang
tercantik di Bank itu. Sudah setengah bulan aku merasa dia selalu menyapaku
setiap hari datang kerja
"Nanti habis pulang kerja tungguin aku ya!" ucapnya sambil tersenyum.
"Hah? Memangnya ada apa?" Tanyaku yang kebingungan.
"Bukannya kamu sudah janji sabtu kemarin untuk nemenin aku pergi berbelanja
hari ini?, kendaraanku juga masih belum selesai diservis, nanti aku ikut
denganmu" jawabnya dengan wajah cemberut.
"Hehehe, aku baru ingat, baiklah.. baiklah, aku akan menunggunya" jawabku
sambil menggarukan kepala.
"Dah, sampai jumpa pulang nanti" ucapku sambil melambaikan tangan.
Kemudian aku beranjak untuk melalukan pekerjaanku.
Waktu sore tiba, pekerjaanku hari ini telah selesai dikerjakan, tinggal
menunggu tiga puluh menit lagi Cely selesai bekerja.
Waktu terus berjalan. Tiga puluh menit telah berlalu.
"Hey, ayo kita pergi, kenapa melamun" ucap Cely sambil menarik tanganku
dengan lembut.
"It..itu, baiklah" jawabku dengan malu.
Kemudian aku dan Cely pergi berbelanja membeli beberapa pakaian untuknya.
Setelah selesai berbelanja aku mengantarkannya pulang kerumah. Ketika
sampai dirumahnya, aku tercengang sambil menegukan ludah.
"Rumahnya begitu besar, tetapi kenapa ia hanya seorang magang di Bank
Manisha?" Gumamku dengan suara kecil yang lagi bingung
Tetapi Cely masih bisa mendengar apa yang dikatakanku.
"Hehehe.. yaudah, makasih ya untuk hari ini, bye..bye" ucapnya kemudian ia
membuka gerbang dan masuk kerumahnya
Tak menunggu lama, aku pun beranjak pulang kerumahku.
Sepuluh hari telah berlalu, hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba
cipta cerpen. Aku tidak sabar menunggu hasil lomba itu. Masih ada dua jam
lagi sebelum pengumuman tiba, aku masih melanjutkan pekerjaanku.
Dua jam telah berlalu, pengumuman telah muncul diwebsite
eventmenulisnasional. Aku melihat apakah ada namaku yang memenangkan lomba
tersebut. Setelah mencari berkali-kali tetapi namaku tidak ada dalam daftar
pemenang. Aku menghebuskan nafas dan sedih tanpa air mata. Kemudian
melanjutkan pekerjaanku kembali.
Siang hari tiba, saatnya waktu makan siang. Ketika hendak keluar dari Bank,
Cely memanggilku.
"Hey Nath, makan bareng yuk" ucap Cely sambil tersenyum.
"Oh, boleh, dimana?" Jawabku.
"Di Cafe depan" ucap Cely sambil menarik tanganku dengan lembut dan menuju
ke mobilnya
"Ba..baiklah" ucapku dengan malu.
Kemudian aku dan Cely pergi ke sebuah Cafe yang berjarak seratus tiga puluh
meter dari Bank Manisha.
Setelah sampai, Cely memesankan dua paket makanan untuk kami berdua, karena
aku tidak tahu cara memesannya maka aku hanya memesan makanan yang sama
dengan Cely.
"Hey, kamu kenapa murung begitu?" tanya Cely dengan cemas.
"Gak kenapa-kenapa kok" jawabku sambil memaksakan senyum.
"Serius, apa yang terjadi padamu? Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa
membantumu" tanyanya dengan perhatian.
"Hmm.. gak serius kok, cuma masalah keluarga" jawabku terpaksa berbohong
kepadanya.
"Huh, akan malu jika aku menceritakan kalo aku tidak menang lomba,
sepertinya aku harus bisa melupakannya" pikirku.
"Ohh.. baiklah, kalo kamu butuh bantuan, mungkin aku bisa membantumu"
ucapnya.
Aku hanya mengangguk kepala dan terseyum.
Setelah selesai makan siang, kami kembali ke Bank untuk lanjut bekerja.
Sembilan belas hari telah berlalu, sudah saatnya aku akan kembali
melanjutkan studi kuliahku. Aku akan berpamitan dengan Cely, karena selama
kurang dari dua bulan ini kami selalu akrab.
"Pagi Nath" sapa Cely sambil tersenyum seperti biasa setiap harinya.
"Pagi juga Cel" jawabku dan tersenyum.
"Oh iya, besok aku akan kembali kuliah, dan aku tidak akan bekerja lagi
disini sementara waktu" ucapku kepadanya.
"Begitu yahh, hmm.. kuliah kamu dimana? Jurusan? Semester?" Tanya Cely
dengan sedikit tidak rela.
"Di Universitas Wirajaya, prodi Akutansi, sekarang mau semester delapan,
sebentar lagi lulus, tinggal bimbingan terakhir skipsiku dan habis itu
wisuda" jawabku.
"Wahh, aku juga baru saja menjadi Alumni disana enam bulan yang lalu..
Kenapa kamu memilih prodi itu?" Tanya Cely sedikit penasaran.
"Itu karena cita-citaku ingin menjadi Manajer Bank, aku akan terus berusaha
agar bisa membuat cita-citaku tercapai" jawabku dengan ekspresi serius.
"Begitu.. baiklah, jangan lupa sering mampir kesini. Ketika kamu lulus, aku
akan memberikanmu hadiah yang tidak kamu duga" ucap Cely sedikit tidak rela
kemudian pada kalimat terakhir ia tersenyum.
"Oke, aku akan mampir ke sini kalo lagi ada waktu" jawabku.
Kemudian aku pergi bekerja seperti biasa. Besoknya aku akan pergi ke
kembali ke kampus.
Keesokan harinya aku pergi ke kampus melanjutkan studi kuliahku.
Empat bulan telah berlalu, akhirnya skripsiku telah selesai, tinggal
menunggu tiga hari lagi untuk wisuda. Selama empat bulan ini, seminggu dua
kali aku mampir ke Bank Manisha menemui Cely dan sering makan bersama.
Sepertinya hubungan kami semakin dekat, bukan seperti sahabat lagi, hanya
saja belum ada yang menyatakan perasaan sendiri.
Waktu terus berjalan, besok adalah hari wisuda. Hari yang bahagia akan
tiba. Tetapi aku masih tidak merasa bahagia. Karena wisudaku tanpa ada
kehadiran orangtua yang aku rindukan. Sudah empat tahun sejak aku lulus
SMA, kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan, dan sekarang aku hanya
tinggal bersama nenek Eline selama empat tahun tersebut. Ketika aku
mengingat kedua orangtuaku yang tidak hadir disaat akan wisuda tiba, air
mataku membasahi pipiku.
"Cucu nenek, kenapa nangis?" Tanya nenek yang khawatir kepada cucunya
sambil membelai rambutku.
"Huhuhu... nek, besok Nathan akan wisuda, tetapi orangtua Nathan tidak bisa
hadir, huhuhu.." Jawabku sambil menangis dan memeluk neneknya.
"Waktu sudah lama berlalu, orang yang meninggal tidak akan bisa kembali
kedunia lagi, Nathan jangan sedih ya, nenek akan hadir dalam wisuda Nathan,
dan juga nanti arwah orangtua Nathan juga ikut hadir melihat Nathan, hanya
saja Nathan tidak bisa melihat mereka, sudah ya" ucap nenek sedih sambil
mengusap punggungku.
Keesokan harinya tiba, Aku dan nenek Eline pergi ke kampus untuk kegiatan
wisuda, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum memulai wisuda, Aku mengajak
nenek Eline berkeliling kampus dengan kursi rodanya.
Ketika berkeliling dikampus, ada seseorang yang memanggilku.
"Nathan.." teriakan Cely dari kejauhan dan kemudian menghampiri Nathan.
"Nona Cely, kenapa kamu kesini?" Tanyaku.
"Ini siapa, Nath?" Tanya nenek Eline ketika melihat Cely kemudian melirik
Nathan.
"Hehe, perkenalkan ini nenek aku Eline Wade" ucapku kepada Cely.
"Nek, ini pacar aku Cely Manisha dan juga bos aku" ucapku kepada nenek
sambil tertawa kecil.
Sebenarnya aku berkata seperti ini hanya untuk mengungkapkan perasaannya
selama ini. Secara resmi kami masih belum pacaran.
Raut wajah Cely seketika merah. Tetapi dalam hatinya merasa bahagia. Cely
juga menyukai Nathan, walaupun Nathan dari keluarga biasa-biasa saja tetapi
Nathan pria yang tampan dan juga baik.
"Huhh.." ucap Cely mendengus dengan malu
Aku baru tahu ketika sering mampir ke Bank Manisha ternyata Cely Manisha
adalah nona dari keluarga kaya, yang bekerja magang hanya mencari
pengalaman untuk meneruskan bisnis perusahaan bank keluarganya.
"Xixixi, nona Cely kenapa bisa ada disini?" Tanyaku sambil tertawa kecil
"Apakah aku tidak boleh ikut menemanimu wisuda?" Tanya Cely dengan wajah
cemberut.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak" Jawabku dengan tersenyum.
Wisuda akan segera dimulai, kemudian Aku, nenek Eline dan Cely Manisha
pergi ke ruangan wisuda.
Setelah mereka selesai wisuda, mereka berfoto bersama beberapa kali.
Kemudian Aku mengantar nenek Eline pulang kerumah, dan Aku kembali pergi
dengan Cely karena ada yang perlu mereka bicarakan. Mereka pergi ke Cafe
tempat biasanya mereka makan. Cely memesan ruang pribadi agar orang lain
tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Nona Cely, kenapa kamu mengajakku kesini, apakah ada sesuatu masalah?"
Tanyaku yang sedikit bingung.
"Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku akan memberikanmu hadiah
setelah selesai wisuda?" Jawab Cely.
"Oh begitu, memangnya hadiah apa yang Nona Cely berikan kepadaku?" Tanyaku
dengan sedikit penasaran.
"Aku akan memberikanmu hadiah pekerjaan sebagai Manager Bank di cabang
perusahaan Bank Manisha keluargaku, apakah kamu mau?" Ucap Cely dengan
senyuman bangga.
"Itu.. apakah benar? Apakah aku layak?" Tanyaku sedikit tidak percaya dan
terkejut.
"Tentu saja, tapi ada persyaratannya" Jawab Cely.
Aku mengangguk
"Syaratnya hanya selama kamu bekerja dengan baik dan tidak ada masalah,
kamu akan tetap bisa menjadi Manajer Bank" Ucap Cely dan tersenyum.
"Baiklah" Jawabku kemudian mengangguk dan tersenyum.
Kemudian sebulan telah berlalu, Aku bekerja dengan sangat baik sebagai
Manager Bank dan menjadi pegawai tetap.
Hubungan Aku dan Cely semangkin dekat, bahkan setiap Cely akan pergi
berbelanja, ketaman bermain ia selalu mengajakku bersamanya.
Ketika mereka berada ditaman bermain, mereka duduk berdua disebuah kursi
panjang, sambil menikmati anak-anak bermain ditaman.
"Nona Cely, apakah aku boleh mengatakan sesuatu?" Tanyaku dengan ekspresi
serius.
"Silahkan, katakan saja" Cely tahu apa yang Nathan katakan.
"Begini, aku sangat menyukaimu. Sudah lama kita selalu bersama. Aku
mempunyai perasaan terhadapmu. Apakah kamu mau menjadi pasangan hidupku?"
Tanyaku sambil mengepalkan tangannya. Ia siap menerima jawaban Cely
walaupun ia menolaknya.
Cely mengangguk; "aku menerimanya"
Rona merah terlihat diwajah Cely. Tentu saja Cely mau, dan ia bahagia.
"Baik, jika kamu siap, aku akan menikahkanmu kapan saja, asal kamu siap"
ucapku dengan serius.
"Kapan saja, aku bersedia" Cely menjawab.
Hari itu adalah hari dimana mereka berdua saling menyatakan perasaan
mereka.
Seminggu telah berlalu, kemudian mereka mengadakan pernikahan di Hotel
Dragon. Kini mereka hidup menjadi berpasangan. Dan setelah beberapa bulan
mereka mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan. Begitulah kisah
mereka berdua, saat ini mereka hidup bersama dalam keadaan saling mencintai
dan berbagi suka duka.
Tamat
Cita-cita Dan Takdir
Nama Penulis: Faisal Hidayah
Namaku Nathan Firmansyah, seorang mahasiwa semester akhir prodi akutansi,
yang saat ini kuliah masih dalam keadaan libur dua bulan sebelum pergantian
semester. Dalam masa libur, aku berkerja sebagai magang di Bank Manisha.
Hari ini adalah hari pertama dimana aku mendapatkan gaji bulan pertama dari
hasil bekerja di sebuah Bank sebagai anak magang. Walaupun gajinya tidak
banyak, aku merasa itu sepandan dengan status pekerjaanku dan itu tidak
membuatku menyerah untuk bekerja. Untuk menggapaikan cita-citaku sebagai
Manager Bank, aku harus bekerja keras untuk mencari uang agar aku bisa
terus melanjutkan studi kuliahku. Aku tidak malu ditertawakan oleh
teman-temanku, karena aku tahu aku hanya bisa menerimanya. Sangat
disayangkan aku masih belum bisa lulus beasiswa untuk melanjutkan S2,
padahal sudah berkali-kali aku mendaftar tetapi masih belum bisa
mendapatkan bantuan beasiswa. Aku tahu itu karena aku belum mempunyai
prestasi, sehingga tidak memungkinkan untuk lulus, karena salah satu
persyaratan utamanya adalah mempunyai prestasi. Tetapi aku tidak pantang
menyerah, tetap semangat belajar dan bekerja keras.
Keesokan harinya aku tidak bekerja, karena hari ini adalah hari minggu. Aku
pergi ke suatu tempat untuk beristirahat menikmati lingkungan alam.
Tepatnya aku menikmati pemandangan di sebuah taman bermain.
Waktu terus berjalan kini langit berubah menjadi kuning. Karena sudah sore
hari, aku pun beranjak pulang.
Ketika diperjalanan pulang, aku menemukan sebuah spanduk di jalan raya. Aku
melihat ada sebuah lomba cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh
pihak eventmenulisnasional, aku membaca isi-isinya dengan cermat. Aku
merasa tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Aku memfotokannya, lalu aku
pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk
lomba tersebut.
Malam harinya tiba tepat pada pukul jam 19:23 pm, aku telah menyelesai
kegiatan pekerjaan rumah, lalu aku mencari ide untuk cerpen yang aku buat.
Setelah satu jam memikirkannya, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide untuk
membuat cerpen. Proses membuat cerpen, aku hanya membutuhkan waktu dua
puluh menit.
Semuanya sudah siap, segera setelah itu aku mengirimkan semua berkas-berkas
yang diperlukan dalam pengumpulan lomba cerpen tersebut. Sekitar sepuluh
hari lagi untuk menunggu pengumuman hasil pemenang lomba tersebut. Aku
berharap untuk bisa memenangkan lomba itu agar bisa menjadi salah satu
prestasiku. Harapan tidak bisa selalu terpenuhi, apapun hasilnya aku tetap
harus bersyukur dan menerimanya.
Hari telah berganti, hari ini aku mulai pergi bekerja kembali di Bank.
"Pagi Nath" sapa salah satu karyawan wanita muda yang cantik kepadaku.
"Pagi juga Cel" jawabku sambil tersenyum.
Cely Manisha juga merupakan salah satu karyawan magang yang bekerja sebagai
teller di bank itu. Wanita itu baik, dan juga karyawan wanita yang
tercantik di Bank itu. Sudah setengah bulan aku merasa dia selalu menyapaku
setiap hari datang kerja
"Nanti habis pulang kerja tungguin aku ya!" ucapnya sambil tersenyum.
"Hah? Memangnya ada apa?" Tanyaku yang kebingungan.
"Bukannya kamu sudah janji sabtu kemarin untuk nemenin aku pergi berbelanja
hari ini?, kendaraanku juga masih belum selesai diservis, nanti aku ikut
denganmu" jawabnya dengan wajah cemberut.
"Hehehe, aku baru ingat, baiklah.. baiklah, aku akan menunggunya" jawabku
sambil menggarukan kepala.
"Dah, sampai jumpa pulang nanti" ucapku sambil melambaikan tangan.
Kemudian aku beranjak untuk melalukan pekerjaanku.
Waktu sore tiba, pekerjaanku hari ini telah selesai dikerjakan, tinggal
menunggu tiga puluh menit lagi Cely selesai bekerja.
Waktu terus berjalan. Tiga puluh menit telah berlalu.
"Hey, ayo kita pergi, kenapa melamun" ucap Cely sambil menarik tanganku
dengan lembut.
"It..itu, baiklah" jawabku dengan malu.
Kemudian aku dan Cely pergi berbelanja membeli beberapa pakaian untuknya.
Setelah selesai berbelanja aku mengantarkannya pulang kerumah. Ketika
sampai dirumahnya, aku tercengang sambil menegukan ludah.
"Rumahnya begitu besar, tetapi kenapa ia hanya seorang magang di Bank
Manisha?" Gumamku dengan suara kecil yang lagi bingung
Tetapi Cely masih bisa mendengar apa yang dikatakanku.
"Hehehe.. yaudah, makasih ya untuk hari ini, bye..bye" ucapnya kemudian ia
membuka gerbang dan masuk kerumahnya
Tak menunggu lama, aku pun beranjak pulang kerumahku.
Sepuluh hari telah berlalu, hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba
cipta cerpen. Aku tidak sabar menunggu hasil lomba itu. Masih ada dua jam
lagi sebelum pengumuman tiba, aku masih melanjutkan pekerjaanku.
Dua jam telah berlalu, pengumuman telah muncul diwebsite
eventmenulisnasional. Aku melihat apakah ada namaku yang memenangkan lomba
tersebut. Setelah mencari berkali-kali tetapi namaku tidak ada dalam daftar
pemenang. Aku menghebuskan nafas dan sedih tanpa air mata. Kemudian
melanjutkan pekerjaanku kembali.
Siang hari tiba, saatnya waktu makan siang. Ketika hendak keluar dari Bank,
Cely memanggilku.
"Hey Nath, makan bareng yuk" ucap Cely sambil tersenyum.
"Oh, boleh, dimana?" Jawabku.
"Di Cafe depan" ucap Cely sambil menarik tanganku dengan lembut dan menuju
ke mobilnya
"Ba..baiklah" ucapku dengan malu.
Kemudian aku dan Cely pergi ke sebuah Cafe yang berjarak seratus tiga puluh
meter dari Bank Manisha.
Setelah sampai, Cely memesankan dua paket makanan untuk kami berdua, karena
aku tidak tahu cara memesannya maka aku hanya memesan makanan yang sama
dengan Cely.
"Hey, kamu kenapa murung begitu?" tanya Cely dengan cemas.
"Gak kenapa-kenapa kok" jawabku sambil memaksakan senyum.
"Serius, apa yang terjadi padamu? Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa
membantumu" tanyanya dengan perhatian.
"Hmm.. gak serius kok, cuma masalah keluarga" jawabku terpaksa berbohong
kepadanya.
"Huh, akan malu jika aku menceritakan kalo aku tidak menang lomba,
sepertinya aku harus bisa melupakannya" pikirku.
"Ohh.. baiklah, kalo kamu butuh bantuan, mungkin aku bisa membantumu"
ucapnya.
Aku hanya mengangguk kepala dan terseyum.
Setelah selesai makan siang, kami kembali ke Bank untuk lanjut bekerja.
Sembilan belas hari telah berlalu, sudah saatnya aku akan kembali
melanjutkan studi kuliahku. Aku akan berpamitan dengan Cely, karena selama
kurang dari dua bulan ini kami selalu akrab.
"Pagi Nath" sapa Cely sambil tersenyum seperti biasa setiap harinya.
"Pagi juga Cel" jawabku dan tersenyum.
"Oh iya, besok aku akan kembali kuliah, dan aku tidak akan bekerja lagi
disini sementara waktu" ucapku kepadanya.
"Begitu yahh, hmm.. kuliah kamu dimana? Jurusan? Semester?" Tanya Cely
dengan sedikit tidak rela.
"Di Universitas Wirajaya, prodi Akutansi, sekarang mau semester delapan,
sebentar lagi lulus, tinggal bimbingan terakhir skipsiku dan habis itu
wisuda" jawabku.
"Wahh, aku juga baru saja menjadi Alumni disana enam bulan yang lalu..
Kenapa kamu memilih prodi itu?" Tanya Cely sedikit penasaran.
"Itu karena cita-citaku ingin menjadi Manajer Bank, aku akan terus berusaha
agar bisa membuat cita-citaku tercapai" jawabku dengan ekspresi serius.
"Begitu.. baiklah, jangan lupa sering mampir kesini. Ketika kamu lulus, aku
akan memberikanmu hadiah yang tidak kamu duga" ucap Cely sedikit tidak rela
kemudian pada kalimat terakhir ia tersenyum.
"Oke, aku akan mampir ke sini kalo lagi ada waktu" jawabku.
Kemudian aku pergi bekerja seperti biasa. Besoknya aku akan pergi ke
kembali ke kampus.
Keesokan harinya aku pergi ke kampus melanjutkan studi kuliahku.
Empat bulan telah berlalu, akhirnya skripsiku telah selesai, tinggal
menunggu tiga hari lagi untuk wisuda. Selama empat bulan ini, seminggu dua
kali aku mampir ke Bank Manisha menemui Cely dan sering makan bersama.
Sepertinya hubungan kami semakin dekat, bukan seperti sahabat lagi, hanya
saja belum ada yang menyatakan perasaan sendiri.
Waktu terus berjalan, besok adalah hari wisuda. Hari yang bahagia akan
tiba. Tetapi aku masih tidak merasa bahagia. Karena wisudaku tanpa ada
kehadiran orangtua yang aku rindukan. Sudah empat tahun sejak aku lulus
SMA, kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan, dan sekarang aku hanya
tinggal bersama nenek Eline selama empat tahun tersebut. Ketika aku
mengingat kedua orangtuaku yang tidak hadir disaat akan wisuda tiba, air
mataku membasahi pipiku.
"Cucu nenek, kenapa nangis?" Tanya nenek yang khawatir kepada cucunya
sambil membelai rambutku.
"Huhuhu... nek, besok Nathan akan wisuda, tetapi orangtua Nathan tidak bisa
hadir, huhuhu.." Jawabku sambil menangis dan memeluk neneknya.
"Waktu sudah lama berlalu, orang yang meninggal tidak akan bisa kembali
kedunia lagi, Nathan jangan sedih ya, nenek akan hadir dalam wisuda Nathan,
dan juga nanti arwah orangtua Nathan juga ikut hadir melihat Nathan, hanya
saja Nathan tidak bisa melihat mereka, sudah ya" ucap nenek sedih sambil
mengusap punggungku.
Keesokan harinya tiba, Aku dan nenek Eline pergi ke kampus untuk kegiatan
wisuda, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum memulai wisuda, Aku mengajak
nenek Eline berkeliling kampus dengan kursi rodanya.
Ketika berkeliling dikampus, ada seseorang yang memanggilku.
"Nathan.." teriakan Cely dari kejauhan dan kemudian menghampiri Nathan.
"Nona Cely, kenapa kamu kesini?" Tanyaku.
"Ini siapa, Nath?" Tanya nenek Eline ketika melihat Cely kemudian melirik
Nathan.
"Hehe, perkenalkan ini nenek aku Eline Wade" ucapku kepada Cely.
"Nek, ini pacar aku Cely Manisha dan juga bos aku" ucapku kepada nenek
sambil tertawa kecil.
Sebenarnya aku berkata seperti ini hanya untuk mengungkapkan perasaannya
selama ini. Secara resmi kami masih belum pacaran.
Raut wajah Cely seketika merah. Tetapi dalam hatinya merasa bahagia. Cely
juga menyukai Nathan, walaupun Nathan dari keluarga biasa-biasa saja tetapi
Nathan pria yang tampan dan juga baik.
"Huhh.." ucap Cely mendengus dengan malu
Aku baru tahu ketika sering mampir ke Bank Manisha ternyata Cely Manisha
adalah nona dari keluarga kaya, yang bekerja magang hanya mencari
pengalaman untuk meneruskan bisnis perusahaan bank keluarganya.
"Xixixi, nona Cely kenapa bisa ada disini?" Tanyaku sambil tertawa kecil
"Apakah aku tidak boleh ikut menemanimu wisuda?" Tanya Cely dengan wajah
cemberut.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak" Jawabku dengan tersenyum.
Wisuda akan segera dimulai, kemudian Aku, nenek Eline dan Cely Manisha
pergi ke ruangan wisuda.
Setelah mereka selesai wisuda, mereka berfoto bersama beberapa kali.
Kemudian Aku mengantar nenek Eline pulang kerumah, dan Aku kembali pergi
dengan Cely karena ada yang perlu mereka bicarakan. Mereka pergi ke Cafe
tempat biasanya mereka makan. Cely memesan ruang pribadi agar orang lain
tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Nona Cely, kenapa kamu mengajakku kesini, apakah ada sesuatu masalah?"
Tanyaku yang sedikit bingung.
"Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku akan memberikanmu hadiah
setelah selesai wisuda?" Jawab Cely.
"Oh begitu, memangnya hadiah apa yang Nona Cely berikan kepadaku?" Tanyaku
dengan sedikit penasaran.
"Aku akan memberikanmu hadiah pekerjaan sebagai Manager Bank di cabang
perusahaan Bank Manisha keluargaku, apakah kamu mau?" Ucap Cely dengan
senyuman bangga.
"Itu.. apakah benar? Apakah aku layak?" Tanyaku sedikit tidak percaya dan
terkejut.
"Tentu saja, tapi ada persyaratannya" Jawab Cely.
Aku mengangguk
"Syaratnya hanya selama kamu bekerja dengan baik dan tidak ada masalah,
kamu akan tetap bisa menjadi Manajer Bank" Ucap Cely dan tersenyum.
"Baiklah" Jawabku kemudian mengangguk dan tersenyum.
Kemudian sebulan telah berlalu, Aku bekerja dengan sangat baik sebagai
Manager Bank dan menjadi pegawai tetap.
Hubungan Aku dan Cely semangkin dekat, bahkan setiap Cely akan pergi
berbelanja, ketaman bermain ia selalu mengajakku bersamanya.
Ketika mereka berada ditaman bermain, mereka duduk berdua disebuah kursi
panjang, sambil menikmati anak-anak bermain ditaman.
"Nona Cely, apakah aku boleh mengatakan sesuatu?" Tanyaku dengan ekspresi
serius.
"Silahkan, katakan saja" Cely tahu apa yang Nathan katakan.
"Begini, aku sangat menyukaimu. Sudah lama kita selalu bersama. Aku
mempunyai perasaan terhadapmu. Apakah kamu mau menjadi pasangan hidupku?"
Tanyaku sambil mengepalkan tangannya. Ia siap menerima jawaban Cely
walaupun ia menolaknya.
Cely mengangguk; "aku menerimanya"
Rona merah terlihat diwajah Cely. Tentu saja Cely mau, dan ia bahagia.
"Baik, jika kamu siap, aku akan menikahkanmu kapan saja, asal kamu siap"
ucapku dengan serius.
"Kapan saja, aku bersedia" Cely menjawab.
Hari itu adalah hari dimana mereka berdua saling menyatakan perasaan
mereka.
Seminggu telah berlalu, kemudian mereka mengadakan pernikahan di Hotel
Dragon. Kini mereka hidup menjadi berpasangan. Dan setelah beberapa bulan
mereka mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan. Begitulah kisah
mereka berdua, saat ini mereka hidup bersama dalam keadaan saling mencintai
dan berbagi suka duka.
Tamat