Tidak Pernah Berakhir
Oleh : Erzhadea Nayla Angel Hawa
Malam itu sunyi. Sangat sunyi. Tak terdengar satupun derikan jangkrik.
Tetapi, gadis yang sudah beranjak dewasa itu selalu terbangun ditengah
tidur lelapnya, bukan karena insomnia ataupun ada yang mengejutkannya,
tetapi karena bayang-bayang yang terus terlintas dalam benaknya. Demi
Tuhan. Dia berani bersumpah. Bayang-bayang itu selalu ada tiap malam.
Kadang terlihat di sela-sela mimpinya, kadang pula terlihat mengamati lekat
gadis itu. Tapi, dia tidak takut. Sama sekali. Dia hanya penasaran, kenapa?
Apa itu seperti memori lama? Atau sekedar fatamorgana?
Gadis itu terjaga dan pikirannya menelisik dalam mimpinya. Tapi hasilnya
nihil. Ia hanya mengingat bayangan yang selalu menghantuinya itu. Dalam
kegelapan kamar yang dimatikan, ada seorang perempuan yang usianya tampak
jauh lebih tua dari gadis itu, berdiri di balik pintu kamar dan menatapnya.
Perempuan itu kembali mengulang pertanyaan seperti pada malam sebelumnya.
“Lagi?” tanya perempuan itu dengan nada yang penuh kasih
Gadis itu hanya menganggukkan kepala, segera perempuan itu menghampirinya
dan memeluknya dalam dekapan yang seharusnya terasa hangat tetapi malah
sebaliknya. Setelah terjaga di tengah malam, ia tak akan pernah bisa
kembali tidur nyenyak. Selang beberapa saat, perempuan yang memeluknya itu
kemudian kembali pada kegelapan di luar.
Gadis itu mulai menyalakan lilin yang berada tepat di sebalah tempat
tidurnya, dengan mengambil korek apik yang ia sembunyikan dalam sarung
bantalnya. Dengan ditemani sebatang lilin, gadis itu beranjak keluar dari
kamar yang berada di ujung koridor. Melewati koridor panjang yang hanya
berisi satu kamar yang ditempatinya, dengan meraba-raba dinding. Tepat pada
lukisan ke lima yang selalu membuatnya merasakan perasaan aneh, tangannya
sontak merasakan suatu benda keras namun elastis. Mendekatkan lilin dan
terpampang saklar merah yang sungguh menarik perhatian untuk diabaikan
begitu saja. Gadis itu menekan saklar dan tiba-tiba saja turun tangga
menuju ke atas. Ia sejenak berhenti. Bukankah tak ada lagi lantai setelah
lantai ke tiga ini? Namun, ia menghiraukannya dan terus menapaki anak
tangga hingga ditemuinya satu ruangan dengan lukisan seorang bocah
laki-laki terpampang pada pintu yang sangat tua.
Ruangan dengan pintu usang itu kembali menarik perhatiannya, ia membuka
ruangan itu. Dengan pencahayaan dari sebatang lilin, ia harus menajamkan
penglihatannya. Di salah satu sudut ruangan, ia melihat lemari yang tak
begitu berdebu. Padahal barang diruangan itu sudah penuh debu tebal.
Mengapa bisa lemari itu seperti terjaga dari debu? Penasaran, gadis itu
membuka lemari dan ia menemukan kotak dengan ukiran aneh setiap sisinya. Ia
mengangkat kotak itu, dan tiba-tiba saja seperti ada suara yang berbisik
pada telinganya.
“Kembalilah”
Gadis itu menoleh, tapi nihil. Tak ada seorang pun. Tiba-tiba saja ia
mencium bau yang sulit dijelaskan dalam ruangan itu. Gadis itu bergegas
keluar dari ruangan. Menuruni tangga dan kembali ke kamarnya. Mencoba
membuka kotak tersebut dengan berbagai macam alat. Namun, tak ada hasil.
Kotak itu tak dapat dibuka. Bahkan belum sempat ia membuka isi buku itu,
kepalanya tiba-tiba berputar dan semuanya mulai gelap.
***
Hamparan padang rumput hijau dengan banyak anak kecil berlarian di bukit.
Pemandangan yang menyejukkan mata. Di bawah salah satu pohon rindang,
terlihat seorang gadis kecil dengan pipi merah merona dan rambut dikepang
melihat kerumunan anak kecil yang sedang bermain. Ia menyendiri dan tak
bergabung dengan mereka. Menatap kerumunan itu dengan sorot yang tak dapat
dijelaskan secara detail. Entah tatapan sedih, atau pula tatapan iri yang
disertai duka. Dari balik pohon itu, seorang bocah laki-laki
mengagetkannya. Bocah laki-laki itu tersenyum jahil, tetapi dihiraukan oleh
gadis kecil yang manis. Bocah laki-laki itu mengeluarkan buku dengan sampul
coklat polos. Memberikan buku itu pada sang gadis, sembari berkata,
“Hei Lyana, aku beri tahu kamu suatu rahasia. Tapi, jangan mengatakannya
pada siapa pun ya! Jika kau mengatakan pada orang lain, maka aku akan
hilang!”
Mata gadis itu berbinar-binar seoalah penasaran akan rahasia yang akan
diucapkan bocah laki-laki itu, tetapi ia tetap memasang wajah jutek seolah
tak peduli.
“Kamu harus janji dulu padaku, baru aku akan mengatakan rahasianya”
“Janji” Jawab gadis itu cepat
“Buku ini dapat mengabulkan segala keinginan. Aku akan mengizinkanmu
menulis di satu halaman buku ini”
Bocah itu memberikan bukunya beserta pena merah dengan sebuah ukiran di
atasnya. Gadis itu mengambilnya, dan membuka halaman buku. Sebenarnya, ia
tak lagi percaya pada keajaiban. Setelah kepergian orang tuanya, ia selalu
merasa sendiri. Meski berapa kali pun ia berdoa agar orang tua nya kembali,
namun, tak ada jawaban atas doanya itu. Ia menulis pada satu halaman buku
itu. Bukan lagi harapan agar orang tua nya kembali, melainkan sebuah
tulisan lain.
Seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka berdua mencoba mendekat,
dan bertanya pada mereka, namun, keduanya seolah tak merasakan keberadaan
gadis itu. Gadis itu menyentuh pundak mereka, tapi tangannya hanya menembus
mereka. Ia sudah dibuat bingung dengan bangun di tempat yang tak
dikenalnya, dan dua anak kecil di hadapannya malah tak dapat ia sentuh. Ia
mencoba membaca tulisan gadis itu, tapi, anehnya tak terlihat apapun.
Tiba-tiba bocah laki-laki itu menoleh dan menatap tepat dimata gadis yang
sejak tadi kebingungan, dan mulutnya seperti mengeja sebuah kalimat
“Pulang dan ingatlah kembali”
Gadis itu tertegun, suara yang ia dengar sungguh familiar. Bahkan sekelebat
ingatan seolah memenuhi kepalanya, ia tak sanggup menerimanya. Gadis itu
memberontak pada dirinya. Bocah laki-laki itu, tetap berfokus pada gadis
kecil di hadapannya. Tak menghiraukannya yang kesakitan. Kemudian tangan
bocah laki-laki itu menyerahkan cincin kepada gadis yang lebih tua darinya
itu. Gadis yang sedang kesakitan itu langsung memakainya tanpa banyak
bertanya, merasakan suatu ketenangan ia menutup matanya.
***
Gadis yang sedang tertidur lelap itu terbangun. Ia terbangun dari mimpi
yang aneh. Ia mengingat jelas mimipinya, padahal ia selalu terbangun tanpa
mengingat apapun. Gadis itu mengatur napasnya, dan menata ulang pikirannya.
Kotak yang tadi malam ia temukan masih tergeletak di atas kasur, ia
membereskan dan menaruhnya di bawah kolong. Ia bergegas mandi, karena dalam
waktu kurang dari satu jam ia harus segera turun untuk bertemu sang dokter.
Ya, gadis itu berada di sebuah rumah tempat pengobatan. Dan lantai tiga
adalah lantai miliknya seorang.
Saat bersiap-siap, ia baru menyadari ada sebuah cincin terpasang pada
jarinya. Bukankah ini cincin dalam mimpi tadi? Ia merasa sayang untuk
melepasnya, sehingga ia menjadikannya kalung agar dapat ia sembunyikan di
balik bajunya. Ya, mereka tak boleh menggunakan segala macam perhiasan di
rumah ini.
Gadis itu menemui sang dokter untuk melakukan terapi, sebenarnya ia tidak
tahu penyakit apa yang dideritanya. Tapi, ia dipaksa masuk ke rumah
pengobatan itu. Ia tak merasa kesal, hanya saja tinggal di rumah pengobatan
sepertinya lebih baik daripada ia harus tinggal di rumah bibinya yang
selalu menyakitinya. Dokter itu menanyakan bagaimana keadaannya, gadis itu
hanya menjawab seadanya, karena ia rasa tak perlu menyampaikan apapun
kepada dokter yang hanya ia temui seminggu sekali itu. Ia hanya ingin
cepat-cepat menyelesaikan sesi konsultasinya dan segera kembali ke kamar
untuk menggali lebih dalam apa yang sedari tadi membuatnya penasaran.
Tampak dokter itu hanya tersenyum, dan seperti biasa dokter itu memberinya
obat dan menceramahinya tak lebih dari tiga menit. Ia kemudia keluar dari
ruangan itu, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, mengambil makan dan
setelahnya kembali ke kamarnya.
Ia merasa linglung bahwasanya sekarang akan menginjak malam lagi, padahal
belum lama ini ia mendapat buku itu ditengah malam. Ia berbaring di atas
kasur dan mengotak-atik kotak itu. Ia mencoba menghubungkan
kejadian-kejadian yang menimpanya dengan mimpinya tadi malam. Mengambil
cincin yang bersembunyi di balik bajunya dan mengamati. Beberapa saat, ia
menyadari bahwasanya motif cincinnya pas dengan bagian kosong pada kotak.
Ia memasangkannya, dan kotak itu terbuka.
Kotak itu berisi buku yang sama dengan yang ia lihat dimimpinya. Gadis itu
membukanya, tetapi, ia tak mengerti apa yang tertulis. Ia merasa bahwa akan
mendapat jawaban dengan mengunjungi ruangan di lantai atas itu lagi. Belum
sempat ia meneguhkan niatnya, perempuan yang selalu mengamatinya di balik
kegelapan menghampirinya. Gadis itu terkejut, tak biasanya ia akan keluar
di awal malam seperti ini.
“Ada apa Bu?”
“Jangan pergi,” Ucap perempuan itu
“Kenapa? Aku rasa aku harus pergi dan meski Ibu melarangku, aku tak akan
peduli”
Setelah gadis itu mengatakan kalimat penentangan itu, perempuan yang selalu
penuh kasih itu seolah mengeluarkan aura kesedihan bercampur kemarahan.
Gadis itu tak peduli ataupun merasa takut, dia tak memiliki rasa takut.
Rasa takutnya itu telah hilang sejak kecil. Perempuan yang dipanggilnya ibu
itu memanglah ibu kandung sang gadis. Namun, gadis itu telah ditinggal oleh
kedua orang tuanya sejak ia kecil. Ya benar – gadis itu bisa melihat
sesuatu yang tak kasat mata. Perempuan itu lantas meninggalkan gadisnya.
Tepat sudah tengah malam, sang gadis kembali menyusuri ruangan di lantai
atas. Ia menemukan sebuah buku tergeletak di atas lantai. Mengambil buku
itu dan saat berdiri, tepat di hadapannya ada seorang laki-laki. Laki-laki
itu mendekat dan membisikkan kalimat dalam bahasa yang tak dimengertinya.
Namun, anehnya ia seolah paham dengan perkataan itu. Gadis itu mengangguk.
Mengambil satu buku lagi di rak yang bertulis album kenangan.
Gadis itu keluar dan kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa laki-laki yang baru
ditemuinya adalah wujud dewasa dari bocah laki-laki di mimpinya.
Ia membaca buku yang tergeletak di lantai, yang tak lain sebagai penerjemah
untuk buku di dalam kotak. Ia menyatukan satu per satu kalimat yang ada di
dalamnya dan tepat pada lembar ke-5 buku bersampul coklat itu, sebuah foto
terjatuh. Wajah gadis berkepang dua bernama Lyana yang ia temui di mimpinya
terlihat dalam foto itu. Benar saja, halaman itu adalah halaman dimana
Lyana menulis keinginannya. Gadis itu mulai menerjemahkan apa yang Lyana
tulis.
‘
Biarkan aku layu layaknya mawar terbawa angin bersama kenangan dan
hilang terlupa’
Tangan gadis itu bergetar cepat, ia seolah merasa bagian dari dirinya yang
hilang mencoba menerobos kembali. Tangannya menyahut buku album kenangan di
sebelahnya. Membalik halaman per halaman dengan cepat. Potongan-potongan
puzzle seolah tersusun di kepalanya. Ia merasakan sakit luar biasa. Tapi,
tangannya terus membuka halaman per halaman dan matanya terus mengamati
setiap foto dengan detail. Perempuan yang tak lain adalah ibunya
menghampiri gadis itu, terduduk lemas di sampingnya dan memohon agar gadis
itu berhenti menyakiti dirinya. Namun, gadis itu terus membuka tak
menghiraukan. Pada halaman terakhir buku album kenangan, ia melihat foto
dirinya yang telah dewasa bersama orang-orang yang tak ia kenal. Bersama
habisnya isi buku album kenangan itu, ia terjatuh dalam kegelapan.
***
Seorang gadis yang biasanya tenang-tenang saja, tiba-tiba menjerit dengan
keras dan memberontak serta melukai dirinya sendiri. Para perawat yang
menjaganya sangat kesusahan. Berapa banyak obat bius yang disuntikkan tak
ada yang memberikan efek yang cukup. Gadis itu terus berteriak dengan
memukul-mukul kepalanya. Salah satu perawat telah bergegas memanggil dokter
yang bertanggung jawab. Perawat lainnya sibuk memegangi tubuh sang gadis
agar tak melukai dirinya lebih jauh.
Dokter tiba dengan terburu-buru karena pasiennya ini menderita maladaptive daydreaming akut yang disertai delusi parah.
Sudah beberapa kali ia melakukan terapi terhadap sang gadis agar dapat
mengurangi delusinya dan dapat segera dinyatakan sembuh meski dalam
pengawasan karena harus tetap mengonsumsi obat. Namun, terapi-terapi yang
dijalankan malah memberinya bahan untuk lebih jauh mengeksplor dunianya
sendiri. Dokter memang tak lepas tangan akan hal tersebut. Tetapi, kondisi
pasien sudah sangat jauh. Ia terus menciptakan dunianya sendiri dan
mengembangkannya. Bahkan dokter pun telah mencoba memasukkan karakter sang
ibu yang sangat ia inginkan bertemu.
Dengan terpaksa sang dokter harus menyuntikkan magnesium pada sang gadis
dengan dosis yang benar-benar harus diperhitungkan agar tak terjadi
kesalahan. Penyuntikan magnesium itu bertujuan untuk membuat sang gadis
berada dalam fase koma sementara. Dan yah – selang beberapa saat setelah
penyuntikan magnesium itu, sang gadis tertidur tenang. Dengan ini, dokter
kembali melakukan terapi pada gadis itu dengan keadaanya yang koma. Ia
berharap gadis itu dapat segera mengatasi rasa traumanya dan menyelesaikan
permainan dalam dunia yang ia ciptakan secepat mungkin.
Tidak Pernah Berakhir
Oleh : Erzhadea Nayla Angel Hawa
Malam itu sunyi. Sangat sunyi. Tak terdengar satupun derikan jangkrik.
Tetapi, gadis yang sudah beranjak dewasa itu selalu terbangun ditengah
tidur lelapnya, bukan karena insomnia ataupun ada yang mengejutkannya,
tetapi karena bayang-bayang yang terus terlintas dalam benaknya. Demi
Tuhan. Dia berani bersumpah. Bayang-bayang itu selalu ada tiap malam.
Kadang terlihat di sela-sela mimpinya, kadang pula terlihat mengamati lekat
gadis itu. Tapi, dia tidak takut. Sama sekali. Dia hanya penasaran, kenapa?
Apa itu seperti memori lama? Atau sekedar fatamorgana?
Gadis itu terjaga dan pikirannya menelisik dalam mimpinya. Tapi hasilnya
nihil. Ia hanya mengingat bayangan yang selalu menghantuinya itu. Dalam
kegelapan kamar yang dimatikan, ada seorang perempuan yang usianya tampak
jauh lebih tua dari gadis itu, berdiri di balik pintu kamar dan menatapnya.
Perempuan itu kembali mengulang pertanyaan seperti pada malam sebelumnya.
“Lagi?” tanya perempuan itu dengan nada yang penuh kasih
Gadis itu hanya menganggukkan kepala, segera perempuan itu menghampirinya
dan memeluknya dalam dekapan yang seharusnya terasa hangat tetapi malah
sebaliknya. Setelah terjaga di tengah malam, ia tak akan pernah bisa
kembali tidur nyenyak. Selang beberapa saat, perempuan yang memeluknya itu
kemudian kembali pada kegelapan di luar.
Gadis itu mulai menyalakan lilin yang berada tepat di sebalah tempat
tidurnya, dengan mengambil korek apik yang ia sembunyikan dalam sarung
bantalnya. Dengan ditemani sebatang lilin, gadis itu beranjak keluar dari
kamar yang berada di ujung koridor. Melewati koridor panjang yang hanya
berisi satu kamar yang ditempatinya, dengan meraba-raba dinding. Tepat pada
lukisan ke lima yang selalu membuatnya merasakan perasaan aneh, tangannya
sontak merasakan suatu benda keras namun elastis. Mendekatkan lilin dan
terpampang saklar merah yang sungguh menarik perhatian untuk diabaikan
begitu saja. Gadis itu menekan saklar dan tiba-tiba saja turun tangga
menuju ke atas. Ia sejenak berhenti. Bukankah tak ada lagi lantai setelah
lantai ke tiga ini? Namun, ia menghiraukannya dan terus menapaki anak
tangga hingga ditemuinya satu ruangan dengan lukisan seorang bocah
laki-laki terpampang pada pintu yang sangat tua.
Ruangan dengan pintu usang itu kembali menarik perhatiannya, ia membuka
ruangan itu. Dengan pencahayaan dari sebatang lilin, ia harus menajamkan
penglihatannya. Di salah satu sudut ruangan, ia melihat lemari yang tak
begitu berdebu. Padahal barang diruangan itu sudah penuh debu tebal.
Mengapa bisa lemari itu seperti terjaga dari debu? Penasaran, gadis itu
membuka lemari dan ia menemukan kotak dengan ukiran aneh setiap sisinya. Ia
mengangkat kotak itu, dan tiba-tiba saja seperti ada suara yang berbisik
pada telinganya.
“Kembalilah”
Gadis itu menoleh, tapi nihil. Tak ada seorang pun. Tiba-tiba saja ia
mencium bau yang sulit dijelaskan dalam ruangan itu. Gadis itu bergegas
keluar dari ruangan. Menuruni tangga dan kembali ke kamarnya. Mencoba
membuka kotak tersebut dengan berbagai macam alat. Namun, tak ada hasil.
Kotak itu tak dapat dibuka. Bahkan belum sempat ia membuka isi buku itu,
kepalanya tiba-tiba berputar dan semuanya mulai gelap.
***
Hamparan padang rumput hijau dengan banyak anak kecil berlarian di bukit.
Pemandangan yang menyejukkan mata. Di bawah salah satu pohon rindang,
terlihat seorang gadis kecil dengan pipi merah merona dan rambut dikepang
melihat kerumunan anak kecil yang sedang bermain. Ia menyendiri dan tak
bergabung dengan mereka. Menatap kerumunan itu dengan sorot yang tak dapat
dijelaskan secara detail. Entah tatapan sedih, atau pula tatapan iri yang
disertai duka. Dari balik pohon itu, seorang bocah laki-laki
mengagetkannya. Bocah laki-laki itu tersenyum jahil, tetapi dihiraukan oleh
gadis kecil yang manis. Bocah laki-laki itu mengeluarkan buku dengan sampul
coklat polos. Memberikan buku itu pada sang gadis, sembari berkata,
“Hei Lyana, aku beri tahu kamu suatu rahasia. Tapi, jangan mengatakannya
pada siapa pun ya! Jika kau mengatakan pada orang lain, maka aku akan
hilang!”
Mata gadis itu berbinar-binar seoalah penasaran akan rahasia yang akan
diucapkan bocah laki-laki itu, tetapi ia tetap memasang wajah jutek seolah
tak peduli.
“Kamu harus janji dulu padaku, baru aku akan mengatakan rahasianya”
“Janji” Jawab gadis itu cepat
“Buku ini dapat mengabulkan segala keinginan. Aku akan mengizinkanmu
menulis di satu halaman buku ini”
Bocah itu memberikan bukunya beserta pena merah dengan sebuah ukiran di
atasnya. Gadis itu mengambilnya, dan membuka halaman buku. Sebenarnya, ia
tak lagi percaya pada keajaiban. Setelah kepergian orang tuanya, ia selalu
merasa sendiri. Meski berapa kali pun ia berdoa agar orang tua nya kembali,
namun, tak ada jawaban atas doanya itu. Ia menulis pada satu halaman buku
itu. Bukan lagi harapan agar orang tua nya kembali, melainkan sebuah
tulisan lain.
Seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka berdua mencoba mendekat,
dan bertanya pada mereka, namun, keduanya seolah tak merasakan keberadaan
gadis itu. Gadis itu menyentuh pundak mereka, tapi tangannya hanya menembus
mereka. Ia sudah dibuat bingung dengan bangun di tempat yang tak
dikenalnya, dan dua anak kecil di hadapannya malah tak dapat ia sentuh. Ia
mencoba membaca tulisan gadis itu, tapi, anehnya tak terlihat apapun.
Tiba-tiba bocah laki-laki itu menoleh dan menatap tepat dimata gadis yang
sejak tadi kebingungan, dan mulutnya seperti mengeja sebuah kalimat
“Pulang dan ingatlah kembali”
Gadis itu tertegun, suara yang ia dengar sungguh familiar. Bahkan sekelebat
ingatan seolah memenuhi kepalanya, ia tak sanggup menerimanya. Gadis itu
memberontak pada dirinya. Bocah laki-laki itu, tetap berfokus pada gadis
kecil di hadapannya. Tak menghiraukannya yang kesakitan. Kemudian tangan
bocah laki-laki itu menyerahkan cincin kepada gadis yang lebih tua darinya
itu. Gadis yang sedang kesakitan itu langsung memakainya tanpa banyak
bertanya, merasakan suatu ketenangan ia menutup matanya.
***
Gadis yang sedang tertidur lelap itu terbangun. Ia terbangun dari mimpi
yang aneh. Ia mengingat jelas mimipinya, padahal ia selalu terbangun tanpa
mengingat apapun. Gadis itu mengatur napasnya, dan menata ulang pikirannya.
Kotak yang tadi malam ia temukan masih tergeletak di atas kasur, ia
membereskan dan menaruhnya di bawah kolong. Ia bergegas mandi, karena dalam
waktu kurang dari satu jam ia harus segera turun untuk bertemu sang dokter.
Ya, gadis itu berada di sebuah rumah tempat pengobatan. Dan lantai tiga
adalah lantai miliknya seorang.
Saat bersiap-siap, ia baru menyadari ada sebuah cincin terpasang pada
jarinya. Bukankah ini cincin dalam mimpi tadi? Ia merasa sayang untuk
melepasnya, sehingga ia menjadikannya kalung agar dapat ia sembunyikan di
balik bajunya. Ya, mereka tak boleh menggunakan segala macam perhiasan di
rumah ini.
Gadis itu menemui sang dokter untuk melakukan terapi, sebenarnya ia tidak
tahu penyakit apa yang dideritanya. Tapi, ia dipaksa masuk ke rumah
pengobatan itu. Ia tak merasa kesal, hanya saja tinggal di rumah pengobatan
sepertinya lebih baik daripada ia harus tinggal di rumah bibinya yang
selalu menyakitinya. Dokter itu menanyakan bagaimana keadaannya, gadis itu
hanya menjawab seadanya, karena ia rasa tak perlu menyampaikan apapun
kepada dokter yang hanya ia temui seminggu sekali itu. Ia hanya ingin
cepat-cepat menyelesaikan sesi konsultasinya dan segera kembali ke kamar
untuk menggali lebih dalam apa yang sedari tadi membuatnya penasaran.
Tampak dokter itu hanya tersenyum, dan seperti biasa dokter itu memberinya
obat dan menceramahinya tak lebih dari tiga menit. Ia kemudia keluar dari
ruangan itu, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, mengambil makan dan
setelahnya kembali ke kamarnya.
Ia merasa linglung bahwasanya sekarang akan menginjak malam lagi, padahal
belum lama ini ia mendapat buku itu ditengah malam. Ia berbaring di atas
kasur dan mengotak-atik kotak itu. Ia mencoba menghubungkan
kejadian-kejadian yang menimpanya dengan mimpinya tadi malam. Mengambil
cincin yang bersembunyi di balik bajunya dan mengamati. Beberapa saat, ia
menyadari bahwasanya motif cincinnya pas dengan bagian kosong pada kotak.
Ia memasangkannya, dan kotak itu terbuka.
Kotak itu berisi buku yang sama dengan yang ia lihat dimimpinya. Gadis itu
membukanya, tetapi, ia tak mengerti apa yang tertulis. Ia merasa bahwa akan
mendapat jawaban dengan mengunjungi ruangan di lantai atas itu lagi. Belum
sempat ia meneguhkan niatnya, perempuan yang selalu mengamatinya di balik
kegelapan menghampirinya. Gadis itu terkejut, tak biasanya ia akan keluar
di awal malam seperti ini.
“Ada apa Bu?”
“Jangan pergi,” Ucap perempuan itu
“Kenapa? Aku rasa aku harus pergi dan meski Ibu melarangku, aku tak akan
peduli”
Setelah gadis itu mengatakan kalimat penentangan itu, perempuan yang selalu
penuh kasih itu seolah mengeluarkan aura kesedihan bercampur kemarahan.
Gadis itu tak peduli ataupun merasa takut, dia tak memiliki rasa takut.
Rasa takutnya itu telah hilang sejak kecil. Perempuan yang dipanggilnya ibu
itu memanglah ibu kandung sang gadis. Namun, gadis itu telah ditinggal oleh
kedua orang tuanya sejak ia kecil. Ya benar – gadis itu bisa melihat
sesuatu yang tak kasat mata. Perempuan itu lantas meninggalkan gadisnya.
Tepat sudah tengah malam, sang gadis kembali menyusuri ruangan di lantai
atas. Ia menemukan sebuah buku tergeletak di atas lantai. Mengambil buku
itu dan saat berdiri, tepat di hadapannya ada seorang laki-laki. Laki-laki
itu mendekat dan membisikkan kalimat dalam bahasa yang tak dimengertinya.
Namun, anehnya ia seolah paham dengan perkataan itu. Gadis itu mengangguk.
Mengambil satu buku lagi di rak yang bertulis album kenangan.
Gadis itu keluar dan kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa laki-laki yang baru
ditemuinya adalah wujud dewasa dari bocah laki-laki di mimpinya.
Ia membaca buku yang tergeletak di lantai, yang tak lain sebagai penerjemah
untuk buku di dalam kotak. Ia menyatukan satu per satu kalimat yang ada di
dalamnya dan tepat pada lembar ke-5 buku bersampul coklat itu, sebuah foto
terjatuh. Wajah gadis berkepang dua bernama Lyana yang ia temui di mimpinya
terlihat dalam foto itu. Benar saja, halaman itu adalah halaman dimana
Lyana menulis keinginannya. Gadis itu mulai menerjemahkan apa yang Lyana
tulis.
‘
Biarkan aku layu layaknya mawar terbawa angin bersama kenangan dan
hilang terlupa’
Tangan gadis itu bergetar cepat, ia seolah merasa bagian dari dirinya yang
hilang mencoba menerobos kembali. Tangannya menyahut buku album kenangan di
sebelahnya. Membalik halaman per halaman dengan cepat. Potongan-potongan
puzzle seolah tersusun di kepalanya. Ia merasakan sakit luar biasa. Tapi,
tangannya terus membuka halaman per halaman dan matanya terus mengamati
setiap foto dengan detail. Perempuan yang tak lain adalah ibunya
menghampiri gadis itu, terduduk lemas di sampingnya dan memohon agar gadis
itu berhenti menyakiti dirinya. Namun, gadis itu terus membuka tak
menghiraukan. Pada halaman terakhir buku album kenangan, ia melihat foto
dirinya yang telah dewasa bersama orang-orang yang tak ia kenal. Bersama
habisnya isi buku album kenangan itu, ia terjatuh dalam kegelapan.
***
Seorang gadis yang biasanya tenang-tenang saja, tiba-tiba menjerit dengan
keras dan memberontak serta melukai dirinya sendiri. Para perawat yang
menjaganya sangat kesusahan. Berapa banyak obat bius yang disuntikkan tak
ada yang memberikan efek yang cukup. Gadis itu terus berteriak dengan
memukul-mukul kepalanya. Salah satu perawat telah bergegas memanggil dokter
yang bertanggung jawab. Perawat lainnya sibuk memegangi tubuh sang gadis
agar tak melukai dirinya lebih jauh.
Dokter tiba dengan terburu-buru karena pasiennya ini menderita maladaptive daydreaming akut yang disertai delusi parah.
Sudah beberapa kali ia melakukan terapi terhadap sang gadis agar dapat
mengurangi delusinya dan dapat segera dinyatakan sembuh meski dalam
pengawasan karena harus tetap mengonsumsi obat. Namun, terapi-terapi yang
dijalankan malah memberinya bahan untuk lebih jauh mengeksplor dunianya
sendiri. Dokter memang tak lepas tangan akan hal tersebut. Tetapi, kondisi
pasien sudah sangat jauh. Ia terus menciptakan dunianya sendiri dan
mengembangkannya. Bahkan dokter pun telah mencoba memasukkan karakter sang
ibu yang sangat ia inginkan bertemu.
Dengan terpaksa sang dokter harus menyuntikkan magnesium pada sang gadis
dengan dosis yang benar-benar harus diperhitungkan agar tak terjadi
kesalahan. Penyuntikan magnesium itu bertujuan untuk membuat sang gadis
berada dalam fase koma sementara. Dan yah – selang beberapa saat setelah
penyuntikan magnesium itu, sang gadis tertidur tenang. Dengan ini, dokter
kembali melakukan terapi pada gadis itu dengan keadaanya yang koma. Ia
berharap gadis itu dapat segera mengatasi rasa traumanya dan menyelesaikan
permainan dalam dunia yang ia ciptakan secepat mungkin.