Karya: Afra Murinna
Kusumbat ribuan kata di sudut paling bising.
Melihatmu tumbuh adalah berkah tak bersuara,
seperti kelopak mawar yang koyak embun pagi.
Kau keindahan yang sengaja tak kusentuh sekarang.
Bukan pengecut, tapi biar pesonamu murni,
jauh dari jemari serakah manusia.
Wajah dan jiwamu kupenjara dalam baris rahasia ini,
menjelma ruang mati tempat ingatan membeku total.
Di sana, rindu berhenti mencari jalan pulang ke rumah lama.
Sebab cinta sejati tak butuh sertifikat kepemilikan.
Ia mekar di sela doa dan jarak yang dingin sekali.
Aku memilih tinggal di balik bayang-bayang kelam.
Asalkan kau bahagia,
sunyi ini adalah pelukan paling hangat untukku.
Aceh, 22 Mey 2026