JENDELA MEMORI NAN BINASA
Karya: Badriatun NiswahDi sela lorong waktu nan usang dan renta,
namaku gugur perlahan terpeluk angin senja
lenyap tanpa bicara,
tanpa sempat memandang retakan cakrawala
Namaku tak lagi tersemat,
di sela doa kecil yang dahulu kau tadahkan,
bagaikan prajurit pelita di tengah badai buana.
Kini sosokku sebatas gema pucat,
yang tersandung di lorong ingatan,
yang tersangkut di sela rongga pikiran,
perlahan binasa, termakan arus periode masa
di antara sunyi yang perlahan berkarat.
Relung memoriku berpusar,
Dahulu, matamu adalah semesta sang griya abadi
Kekasih diantara lautan mega,
yang mendekap letihku tanpa tanya.
Di sana rinduku tumbuh liar,
menjalar seperti akar-akar tua
yang menembus dada bumi demi menemukan keabadian.
Namun waktu rupanya pencuri paling kejam.
Ia merampasku dari kenanganmu
tanpa meninggalkan suara pecahan sedikit pun.
Kini aku hanya musim yang singgah sejenak
di jendela hidupmu,
kemudian lambat laun tergerus,
Termakan oleh jeruji bisu,
seperti hujan yang mengering di telapak jalan.
Pada akhirnya, sosokku perlahan menghilang
tertelan lorong kenangan yang kau robek,
terhanyut sagara debur ombak arsipan memori
hingga perlahan bingkai siluetku dilupakan.
Aku akhirnya mengerti,
kehilangan tak selalu datang bersama perpisahan.
Kadang ia duduk diam di antara dua insan
yang masih saling memandang,
namun hatinya telah menjadi benua asing
yang tak lagi mengenal bahasa pulang.
Demak, 28 Mei 2026