KOTA YANG TINGGAL DI MATAMU
Karya: DASRIN"Kota yang Tinggal di Matamu"
Aku tidak tahu
sejak kapan namamu
mulai menetap di kepalaku
seperti hujan
yang memilih tinggal
lebih lama di atap rumah tua.
Mungkin sejak matamu
diam-diam memandang dunia
dengan cara yang lembut itu,
atau sejak tawamu jatuh
pelan-pelan
dan membuat seluruh pikiranku
kehilangan arah pulang.
Ada sesuatu pada dirimu
yang sulit dijelaskan kata-kata.
Seperti aroma tanah
setelah hujan pertama,
atau cahaya senja
yang selalu berhasil membuat langit
rela tenggelam perlahan.
Aku sering berpura-pura biasa saja
saat berada di dekatmu,
padahal dadaku ribut luar biasa—
seolah ribuan burung kecil
terbang panik
di dalam tubuhku sendiri.
Kau tidak pernah tahu,
setiap kali namamu disebut,
aku mendadak menjadi musim hujan:
tenang di luar,
tetapi gaduh oleh rintik
yang jatuh diam-diam.
Aku mengagumimu
dengan cara yang sederhana,
namun melelahkan.
Menyimpanmu sendirian
di tempat paling dalam
yang bahkan tak sanggup
aku jelaskan kepada diriku sendiri.
Kadang aku ingin bertanya
kepada langit malam:
mengapa seseorang bisa terasa
sedekat napas
namun sejauh takdir?
Sebab melihatmu
selalu seperti berdiri
di depan rumah bercahaya
yang hangat dan menenangkan,
tetapi aku sadar
aku bukan seseorang
yang ditunggu di sana.
Dan anehnya,
meski tahu begitu,
aku tetap betah
mengagumimu.
Seperti laut
yang tak pernah bosan
mencium bibir pantai
meski akhirnya
selalu kembali ditinggalkan.
Matamu itu
barangkali tempat
segala kehilangan berkumpul.
Ada sendu yang tenang di sana,
ada teduh
yang membuat seseorang
ingin menetap lama-lama.
Aku pernah mencoba
melupakanmu perlahan,
tetapi setiap kali berhasil pergi,
selalu ada hal kecil
yang menyeretku kembali:
lagu tertentu,
langit sore,
bau hujan,
atau seseorang
yang tertawa mirip dirimu.
Sejak mengenalmu,
aku mulai memahami
bahwa kagum
bisa menjadi luka
yang paling indah.
Ia tumbuh diam-diam,
tanpa suara,
tanpa permisi,
lalu memenuhi dada
hingga seseorang
tak lagi mampu membedakan
mana bahagia
dan mana kecewa.
Aku tidak menyesal
mencintaimu sejauh ini,
meski akhirnya
aku hanya menjadi seseorang
yang berdiri di pinggir cerita
tanpa pernah benar-benar masuk
ke dalam hidupmu.
Karena bagaimanapun,
kau pernah membuatku percaya
bahwa dunia
tidak selalu sekeras itu.
Bahwa satu tatapan
bisa menyelamatkan seseorang
dari sepi yang panjang.
Dan bila suatu hari nanti
aku benar-benar hilang
dari hidupmu,
aku harap kau tetap mengingatku
sebagai seseorang
yang pernah mengagumimu
dengan sangat tulus.
Seseorang
yang diam-diam menjadikan matamu
sebagai rumah,
meski tak pernah diberi kesempatan
untuk tinggal.
Kendari, 18 mei 2026