Renjana di Balik Sorot Matamu
Karya: Dewi MauriskaAku mengagumimu
seperti seseorang mencintai senja,
tanpa perlu memiliki,
cukup memandangnya
hingga lupa bagaimana caranya pergi.
Entah sejak kapan
sorot matamu
menjelma menjadi tempat paling teduh
bagi riuh yang tinggal di kepalaku.
Dan mungkin,
semuanya bermula
dari caramu menatapku waktu itu,
tatapan singkat
yang saat ini terus menetap
lebih lama dari yang seharusnya.
Caramu berbicara
selalu hadir dengan tenang,
menata kalimat-kalimat sederhana
hingga hal yang rumit sekalipun
terasa mudah dipahami.
Sejak saat itu,
segala hal kecil tentangmu
rupanya selalu tinggal
lebih lama di ingatanku.
Senyummu yang hangat,
sikapmu yang teduh,
serta kehadiranmu
yang diam-diam membuat hidup
terasa lebih lembut untuk dijalani.
Dan tanpa benar-benar kusadari,
kekaguman itu perlahan tumbuh menjadi renjana
yang hingga kini masih ku simpan diam-diam.
Yogyakarta, 18 Mei 2026