Karya: Dinara Agridia Hermanto
Debu di Album Usang
Di antara rak tinggi yang penuh debu,
aku menggapai album usang yang kaku.
Ku buka satu per satu tiap lembar,
potret kecil berisi waktu yang lalu.
Dulu kau memanggilku dengan panggilan istimewa.
Kini, panggilan itu kembali menjadi kata biasa,
terkunci rapat di antara lekukan bibirmu—
yang takkan pernah kau sebut lagi.
Waktu terus berjalan tanpa henti,
perlahan menghapus jejak yang telah kita lalui.
Kini, hanya tersisa kenangan yang membaca nama kita.
Nama yang dulu selalu dipuja-puja dan dikagumi,
sekarang hanya huruf mati yang tak pernah diucap lagi.
Aku berdiri di tempat yang sama seperti dulu,
tapi tak ada lagi siluetmu di samping tubuhku.
Hidup itu lalu lalang,
semua singgah, tak ada yang menetap.
Datang jadi cerita, pergi jadi pelajaran.
Madiun, 20 mei 2026