Elegi Penjahit Kehidupan
Karya: Gabriela ReginataElegi Penjahit Kehidupan
Di lorong pucat yang tak mengenal tidur,
ia merawat sisa-sisa napas manusia
dengan jemari yang mulai kehilangan hangatnya sendiri.
Matanya dipenuhi sisa malam,
namun suaranya tetap teduh
bagi mereka yang gemetar di ambang perpisahan.
Ia hafal bunyi doa yang pecah dalam tangis,
menyaksikan sorot mata
yang menggantungkan harapan terakhir
pada bahu yang nyaris runtuh.
Tak ada perayaan ketika langkahnya pulang.
Hanya kopi yang membeku di meja,
serta rumah yang lebih akrab dengan sunyi
daripada kehadirannya.
Namanya singgah sesaat
di ingatan mereka yang kembali sehat,
lalu luruh seiring waktu
seperti nyeri yang reda tanpa suara.
Barangkali begitulah nasib pengabdian,
tetap berjaga di tepi nestapa,
lalu dilupakan
setelah dunia kembali bernapas lega.
Bandung, 16 Mei 2026