Kacamata Peninggalan
Karya: Halilintar WarsopernotoDi rumah duduk sebuah kacamata.
Bingkai yang patah, aku tahu nama pemiliknya.
Lensanya retak, aku tidak tahu siapa pemiliknya.
Dirinya dipajang di ruang keluarga, pada rak paling atas.
Semuanya lalu-lalang, dunia yang berputar, dirinya kontras.
Berdebu, menumpuk bagai selimut, cermin sudah tidak jelas.
Membatu, karat yang mengikis baut, tangkai yang mengeras.
Hitam yang lapuk, memperlihatkan perak karena mengelupas.
Aku bahkan sudah lupa bentuk asli sebelum berkarat di situ.
Tidak sempat untuk lupa, dan tidak sempat untuk ingat.
Di ruang keluarga,
mana yang menua dan mana yang berkarat.
Mana yang menetap ketika pergi,
dan mana yang sudah pergi ketika menetap.
Mereka sebut namanya, aku ikut menyebut,
tapi hanya tahu kacamata yang terdiam.
Dulu pernah ada aku dibalik lensa miliknya,
Kini dirinya hidup sebagai kacamata di ruang keluarga.
Bandung, 28 Mei 2026