Karya: Meisyah Nur Fadillah
Aku mengagumimu seperti hujan
yang jatuh diam-diam di malam hari,
tak pernah meminta untuk dimiliki,
hanya ingin dirasakan walau sebentar saja.
Kau datang membawa perhatian sederhana,
membalas pesanku dengan hangat,
bertanya bagaimana hariku,
membuatku merasa hidup ini sedikit lebih tenang.
Dan tanpa sadar,
aku mulai menaruh hati terlalu dalam.
Padahal aku tahu,
di sisimu sudah ada seseorang
yang lebih berhak menerima semua tentangmu.
Sedangkan aku
hanya perempuan yang berdiri di pinggir cerita,
menonton bahagia yang bukan milikku.
Lucunya, kau tetap memperlakukanku dengan baik.
Sikapmu membuatku salah mengartikan segalanya.
Aku mengira perhatianmu adalah tanda,
padahal mungkin itu hanya caramu
menjadi baik kepada semua orang.
Sementara aku di sini,
sibuk menyusun harapan dari hal-hal kecil
dari pesan singkatmu,
dari tawamu,
dari caramu membuatku merasa dianggap.
Aku memberi effort tanpa henti,
menunggu kabarmu sampai larut malam,
mengabaikan rasa lelah hanya untuk tetap ada untukmu.
Namun sekeras apa pun aku mencoba,
matamu tak pernah benar-benar melihatku.
Dan yang paling menyakitkan,
aku tetap memilih bertahan
meski tahu akhirnya hanya
akan kecewa.
Aku tetap mengagumimu
meski setiap hari harus menahan cemburu
melihat kau mencintai orang lain
dengan cara yang tak
pernah kau berikan padaku.
Mungkin aku memang hanya persinggahan,
tempat kau datang saat merasa sepi,
bukan tempat yang
benar-benar ingin kau miliki.
Sedangkan aku,
telah menjadikanmu rumah
bahkan sebelum kau berniat tinggal.
Kini aku belajar satu hal,
bahwa tidak semua rasa
harus memiliki.
Ada cinta yang dibiarkan tumbuh diam-diam,
lalu hancur perlahan tanpa pernah diketahui.
Dan aku adalah seseorang itu yang mengagumimu terlalu dalam,
hingga lupa cara menyelamatkan diri
dari luka yang kau beri tanpa sengaja.
Gowa, 17 Mei 2025