Karya: Radithya Naufal Fadhillah
Bel istirahat pecah di udara sekolah yang riuh,
Sementara itu langkahku jatuh pelan di antara gemuruh.
Dua puluh dua anak tangga kuturuni perlahan,
Hingga dua detik mata kita saling menemukan.
Di antara seragam putih abu dan arus manusia,
Tatapanmu membuat dunia kehilangan suara.
Seringkali tatapan itu hadir tiba-tiba,
Dan penuh makna.
Seolah ada kalimat yang tak sempat diucapkan
Setiap kali pandangan kita saling tak sengaja terarahkan.
Parfummu tertinggal tipis bersama desir udara,
Sedangkan jantungku sibuk menyimpan rasa.
Tangga itu kini menjadi tempat paling bermakna,
Dan diam-diam namamu kusebut dalam doa.
Namun beberapa perasaan memang tak perlu diucapkan,
cukup dikenang lalu diam-diam diabadikan.
Sebab terkadang mengagumi tak selalu tentang memiliki,
Melainkan lebih dari melibatkan rasa di dalam hati.
Bandung, 20 Mei 2026