Rumah sederhana
Karya: Ratih Aswiyanti SarifPerjalananku panjang, sungguh melelahkan.
Bekalku hampir habis, air sudah tak tersisa.
Kulihat kakiku yang penuh luka, rasa perih mulai menjalar.
Lelahku memuncak.
Terlihat sebuah rumah diujung sana.
Ku dekati rumah mungil itu, lulu mengetuk pintunya perlahan.
Tok tok tok...
Tak ada jawaban.
Ku ulangi beberapa kali, sembari mengucap salam.
Samar terdengar dari dalam, jawabnya terlampau kecil, begitu lirih, nyaris tak terdengar.
Aku masih berdiri di depan pintu yang sama, perlahan kuketuk lagi pintunya.
Dengan harap, pintukan terbuka.
Kupandang lagi rumah ini, sangat sederhana.
Namun sungguh menarik.
Tempat ku ingin berteduh, dari teriknya mentari, ataukah sepinya malam.
Tempat kuingin berlindung dari guyuran hujan, ataukah tertawa lepas saat cuaca hangat.
Aku masih berdiri di depan pintu yang sama, dengan harap yang sama.
Menanti pintu ini dibuka oleh Sang Tuan.
Kota Waingapu, 2 Mei 2021