Karya: Rini sahrina
Aku menyebutmu
dengan aksara yang belum sempat ditemukan musim,
ketika malam masih belajar menjadi sunyi
dan langit belum mengenal arti kehilangan.
Namamu mengendap
di dasar doa-doa yang tak selesai diucapkan,
seperti kabut yang tinggal terlalu lama
di pelupuk dini hari.
Aku mencintaimu
dengan cara paling purba:
diam-diam tumbuh
di antara reruntuhan waktu
dan bunyi hujan yang patah di jendela.
Barangkali sebab itulah
tak ada bahasa yang benar-benar mampu menerjemahkanmu.
Kau terlalu jauh untuk diraih,
namun terlalu abadi untuk dilupakan.
Maka, aku tetap menyebutmu
pelan, nyaris tak terdengar
dalam bahasa yang belum lahir,
bahasa yang hanya dimengerti
oleh kehilangan dan keabadian.
Padangsidimpuan, 15 Mei 2026