Elegi bagi Nama yang Gugur dari Ingatan
Karya: Ahmad Syaikhoni TyazainAku tidak lenyap pada hari yang sama.
Mula-mula, namaku tanggal dari bibir yang biasa menyebutnya,
seperti paku tua yang dicabut diam-diam dari dinding rumah;
lukanya tertutup cat baru,
namun bekas gantungannya tetap menggigil setiap malam.
Kemudian tahun-tahun datang sebagai tukang arsip yang kejam.
Mereka melipat suaraku ke laci paling bawah,
menumpuknya dengan debu,
dan memberi ruang bagi riuh yang lebih muda untuk dikenang.
Kini aku hanya alamat yang masih dihafal jalan,
meski tak lagi tercantum pada peta mana pun.
Yang paling pilu bukan ketika namaku hilang,
melainkan saat segala yang pernah kuberikan...cinta, peluh, dan harapan...
tetap hidup dalam banyak dada,
sementara asalnya dibiarkan menjadi rahasia.
Dan ketika ingatan terakhir menutup matanya,
yang terkubur barangkali bukan aku,
melainkan jalan pulang menuju kenang.
Bandar lampung, 5 Juni 2026