Kolom Nama Ayah
Karya: Dian PratiwiKala itu, hari-hari menjelang perpisahan siswa-siswi SMA.
Kami duduk di aula,
tertawa bersama,
saling bertukar cerita
tentang masa depan yang menanti.
Lalu selembar formulir berpindah ke tanganku.
Awalnya aku mengisi biasa saja,
hingga langkah penaku terhenti
di kolom nama ayah.
Nama yang seharusnya kubangga-banggakan,
namun rasanya terlalu asing untuk kusebut.
Ada rasa yang membuat dadaku sesak.
Dia ada,
dia hidup,
namun raganya terlalu jauh untuk kupeluk.
Dia sosok yang katanya
cinta pertama seorang anak perempuan.
Namun, di mana sosok itu berada sekarang?
Aku bahkan tak tahu bagaimana rupanya,
suaranya,
bahkan aroma wewangian yang biasa dipakainya.
Kupikir cinta pertamaku
adalah sosok yang biasa disebut "ayah".
Namun nyatanya,
sosok itu adalah luka pertamaku.
Di kolom itu kutulis namamu seperti biasa.
Namun ada satu hal
yang tak pernah mampu kutulis:
harapanku untuk mengenalmu,
seperti anak-anak lain
mengenal ayah mereka.
Kisaran, 24 Juni 2026