Menjahit Titik di Ujung Doa
Karya: HerudiansyahDi asmaraloka ini,
ia menengadah pilu kepada Sang Pencipta.
Mengangkat tinggi tangannya,
berharap badai yang kusut masai segera reda.
Bisik ririh dikubur dalam sujud,
merajut pinta yang diterbangkan angin sunyi.
Namun, Tuhan memberinya dandanan badai yang menari,
menempanya di balik rerimbunan duri yang tajam.
"Tuhan, ringankan setiap langkahku."
Air mata mengalir deras, namun jemarinya mengepal.
Raga itu berkali-kali jatuh membentur batu,
namun jiwanya menolak berselisih dengan takdir.
Sejak hari itu, ia berhenti mengeluh.
Lentera di dadanya kini telah ia beri nyawa,
memaksa bayang ketakutan menari telanjang
di dinding malam yang pelan-pelan meredam.
Menjahit duka dalam sembilu pada petala terdalam,
melewati berbagai lorong kesembilan yang kelam,
hingga tak ada lagi air mata yang perlu ia tumpahkan.
Pada akhirnya, ia hanya perlu menutup buku itu.
"Anugerah-Mu sungguh indah," bisiknya teduh,
sambil tersenyum menatap pohon yang mulai berbunga di dalam hati.
Bulungan, 26 juni 2026