Arsip yang Lenyap di Ujung Jari
Karya: Meilina FardaniDi rahim kota yang menolak tua
ada waktu yang melarutkan nama-nama.
Kita adalah selembar kertas di sudut pustaka
yang tintanya mengering, dimakan sunyi yang purba.
Siapa yang sudi merawat remah ingatan?
Ketika deru mesin melindas sisa-sisa tatapan.
Kau dan aku, perlahan menjelma bayang
tersisih dari catatan, karam di arus yang gamang.
Malam mengunci rapat pintu-pintu rahasia,
menyisakan kita, sekadar angka yang sia-sia.
Dulu kita adalah aksara yang lantang dieja,
kini melenyap, menjadi debu di atas meja.
Kita telah menjadi yang tak terpikirkan,
seperti ketukan pintu yang diabaikan.
Sebab di dunia yang bergerak tergesa-gesa,
melupakan adalah cara mereka merayakan kuasa.
Bogor 5 Juni 2026