Surat yang tak pernah sampai
Karya: MisnaSurat yang tak pernah sampai
Ada harap yang kutulis rapi di selembar doa,
Kulipat hati-hati, kuselipkan di sela tahajud,
Kutitipkan pada angin subuh yang paling jujur,
Tapi ia pulang lagi, basah oleh embun, tanpa alamat balasan.
Ia bukan ditolak,
Hanya tak pernah sampai.
Seperti merapal nama di tepi pantai Losari,
Ombak membawanya pergi, tapi laut tak pernah pandai berbahasa manusia.
Aku belajar, tak semua harap harus jadi nyata,
Beberapa memang ditakdirkan jadi puisi,
Tempat paling aman untuk luka yang tak tahu pulang.
Ia hidup di kertas, bukan di pelukan.
Dan jika kelak kau bertanya,
"Kenapa masih berharap?"
Akan kujawab,
Karena harap yang tak tersampaikan itu,
Yang mengajariku mengeja ikhlas paling fasih.
Sebab Tuhan tak pernah ingkar janji.
Hanya saja, kadang jawabannya adalah menguatkan bahuku,
Bukan mengabulkan mauku.
22 Juni 2026