Asing Bagi Wajahnya
Karya: Muhamad Nasrul UlumHai masa,
Begitu cepat engkau berlari,
Menyeret tubuh ini menembus cakrawala yang terus berubah.
Namun niatmu masih menjadi misteri,
Sebagai kawan? Ataukah lawan?
Di sudut ingatan, masih ada bocah itu.
Berlarian tanpa alas, mengejar layang-layang yang bercerai dengan empunya,
Menyimpan tawa di saku yang tak pernah kosong.
Senja menjadi saksi,
Bagaimana satu teriakan bisa menghentikan waktu,
"Nak, cepat pulang, hari sudah hampir gelap."
Bagai denting lonceng yang terbang bersama angin.
Sirna.
Seakan menjadi asing di telinga.
Adakah toko yang menawarkan alarm dengan bunyi semerdu itu?
Waktu tumbuh menjadi dinding.
Menyisakan rak-rak ingatan,
Tempat aksara lama mengumpulkan debu.
Usang. Hilang. Terlupakan.
Bukankah kita adalah teman?
Hari-hari datang membawa angka,
tanggung jawab,
serta jalan-jalan yang tak selalu ramah.
Perlahan tawanya luruh menjadi diam,
Mimpinya terlipat di antara lembar usia.
Hei, mana senyummu yang begitu merekah itu?
Kini aku berdiri sebagai dewasa.
Memandang bayangnya yang kian meremang dari kejauhan.
Berlatarkan bias jingga,
ia melambaikan tangan
dan seolah berkata,
"Aku niskala,
Hadir dalam kenanganmu,
Namun tak lagi kau lihat."
Wahai Tuhan,
Jika bocah itu masih hidup di sudut sukma,
Mengapa aku menjadi asing bagi wajahnya?
Lampung Tengah, 05 Juni 2026