Titik temu takdir dan pinta
Karya: Nida syifa salsabilaTitik Temu Takdir dan Pinta
Aku sempat tersesat di samudra kitab, menghanyutkan tepian adab.
Lentera jamaah kupadamkan, mabuk oleh semu purnama.
Saat mengaji, kupelihara ular kantuk, hingga petir hukuman menyentak bangun.
Sabda guru menancap di dada, “Ilmu tanpa adab, tak ubahnya bangkai.”
Malam itu, air mata luruh membasahi bumi.
“Wahai Samudra Kasih, perahuku karam, namun harap belum mati.”
Basuhlah teratai hati yang kelam ini dengan debu suci-Mu.
Kupanggang diri dalam api tirakat, kuhembuskan angin ikhtiar.
Meski terjerembap di jurang salah, aku merangkak demi puncak.
Kulepas candu gawai berbisa, kupeluk pohon tua ilmu.
Hingga caci maki perlahan melunak jadi untaian bunga.
Kini langit kelulusan bergemuruh, namaku mencuat bagai kilat.
Kupijak podium juara kedua, aku yang dulu terkubur lumpur.
Kupahami, hukuman bukanlah kutuka, ia rengkuhan tangan guru.
Di titik ini, sungai takdirku bermuara di Gangga pinta.
Inilah doa yang terjawab, gema keberhasilannya menggelegar.
Aku sehelai rumput, kini tegak menantang puncak Meru.
Yang mustahil dalam mimpi, kini nyata di genggaman.
Titik temu takdir dan pinta, bait penutup babak sunyi hidupku.
Wonogiri,24 Juni 2026