DOA YANG BELAJAR MENJADI AKU
Karya: Novi HandraAku mengirim doa tanpa suara,
melipatnya ke dalam denyut nadi.
Biar waktu yang mengantarnya,
sebab langit tak pernah tergesa membaca.
Hari-hari mengikir namaku,
hingga tinggal inti yang tak mudah retak.
Rupanya kehilangan adalah pahat,
yang diam-diam memahat ruang bagi cukup.
Setiap "belum" kupungut utuh,
kusangka serpih kecewa yang sia-sia.
Ternyata ia benih musim,
yang hanya tumbuh di tanah sabar.
Saat jawaban itu akhirnya datang,
tak ada gelegar, tak ada tanda.
Hanya dadaku yang mendadak lapang,
seolah pintu telah lama terbuka.
Barulah kupahami rahasia doa:
ia tak selalu mengubah nasib.
Sering kali ia lebih dahulu,
mengubah orang yang memintanya.
Maka kini aku tak lagi mengejar esok.
Aku menumbuhkan layak di dalam diri.
Sebab doa paling sempurna terjawab,
ketika aku lebih dahulu menjadi jawabannya.
Limo Kampuang, 29 Juni 2026