Takdir Tidak Selalu Memilih Purnama
Karya: Nurlaylatul fitriRancangan semesta kali ini berkelindan dalam lengkara,
Menggetarkan cakrawala hingga ke palung terdalam benakku,
Pernah kurajut harap pada jiwa yang larut dalam sujud,
Tenggelam khusyuk di hamparan jalan menuju keabadian,
Desirnya tak riuh, namun serupa senja yang bersabda dalam lembayung,
Menebarkan teduh yang diam-diam menetap di ruang batin.
Namun semesta memintal arah nurani dengan cara yang tak terduga,
Meluruhkan tekad yang kukira kukuh dalam sekejap fana,
Aku terhela pada poros yang tak mampu kuterka,
Menuju jiwa yang tak sepenuhnya utuh dalam takzimnya.
Ibadahnya hanyalah hitungan jemari yang lirih merangkai doa,
ilmunya tak seluas cakrawala biru yang kehilangan tepi,
Ia bukan purnama yang sempurna menerangi malam,
Bukan pula bintang yang gemerlap menaklukkan langit.
Namun entah, di relungnya bersemayam cahaya yang nyaris tak tampak,
Redup, tetapi tak pernah benar-benar padam.
Ada ketulusan yang mengalir tanpa meminta nama,
Ada hangat yang tumbuh tanpa berhasrat menjadi api.
Dan dari segala yang sederhana itu,
kesungguhan menambatkan dirinya di dermaga batinku.
Seolah semesta sedang mengajarkanku bahwa kekaguman
tak selalu berlabuh pada yang paling sempurna,
melainkan pada jiwa yang, dengan segala kurangnya,
tetap mampu membuat hati memilih untuk tinggal.
Lima Puluh Kota, 5 Juni 2026