Surat dari Retak Tanah
Karya: Septian Aprilia RamadhanDi lereng musim yang kehilangan arah,
aku mengirim harap lewat retak tanah.
Tak ada alamat yang kutahu,
selain namamu yang makin jauh
dari segala jawaban.
Aku telah menunggu terlalu lama.
Angin membawa kabar,
namun selalu gugur sebelum sampai.
Sungai membawa lukaku ke muara,
dan tak satu pun kembali sebagai balasan.
Meski begitu,
aku masih menyimpan benih kecil
yang tak sempat tumbuh di antara kita.
Sebab retak di tubuh tanah
perlahan menetap di dadaku.
Suatu hari, ketika kesunyianmu
lebih nyaring daripada suaraku,
kau akan mengerti:
aku tidak kehabisan harapan.
Aku hanya kehabisan cara
untuk membuatmu mendengarnya.
Mojokerto, 26 Juni 2026