Langit yang Tidak Ikut Sampai
Karya: SILFI PRIMA PUTRIKau pernah membentangkan masa depan
di hadapanku,
seperti seorang pelaut yang membuka peta
pada malam tanpa mercusuar.
Dengan mata yang penuh daratan-daratan baru,
kau menunjuk satu demi satu kemungkinan:
kota yang ingin kau taklukkan,
langit yang ingin kau sentuh,
hidup yang ingin kau menangkan.
Dan aku,
hanyalah tepian sunyi
tempat segala mimpimu singgah sebentar
sebelum berangkat.
Waktu kemudian bekerja
sebagaimana mestinya.
Ia menggeser musim, menukar arah angin, memisahkan jejak-jejak yang sempat berjalan beriringan.
Sejak itu, tak ada lagi kabar tentang peta yang pernah kau bentangkan.
Namun setiap kali fajar mengangkat tirai gelap dari langit,
aku masih membayangkan kapalmu bergerak jauh di cakrawala,
membawa seluruh cita-cita yang pernah kau titipkan pada percakapan-percakapan panjang.
Aku tak berharap menjadi pelabuhan.
Aku tak berharap namaku tinggal dalam kemenanganmu.
Bahkan bila kelak kau berdiri di puncak dunia tanpa mengingat bahwa aku pernah ada,
harapku tak akan berkurang barang setetes pun.
Sebab ada doa yang tak lahir dari keinginan memiliki.
Ada cinta yang memilih menjelma langit:
tak ikut pergi, tak ikut sampai,
hanya membentang diam-diam
agar seseorang dapat menemukan jalannya.
Dan jika suatu hari seluruh mimpimu benar-benar menjadi nyata,
biarlah semesta menyimpan rahasia ini:
bahwa di antara riuh tepuk tangan, pernah ada satu harap yang tak tersampaikan,
namun tak pernah berhenti mengantarkanmu pulang pada diri sendiri.
Sumatera barat, 24 Juni 2026