Anomali Rasa
Karya: Yohana Futri MarbunPernah ada waktu di mana namamu adalah mantra.
Di kelas delapan, kau menjelma pusat semesta;
pintarmu memukau, petikan gitarmu menenangkan riuh,
dan langkah tangkasmu di lapangan basket kuperhatikan dari jauh.
Aku, pengagum rahasia yang menyusun ekspektasi gila,
mengira hatimu seindah melodi surgawi.
Namun, hari lahirmu menyingkap tabir dengan kejam.
Hanya karena sebaris ucapan selamat di lini masa,
kau tumpahkan badai amarah, memaki tanpa ampun.
Kata-kata sekasar batu legam keluar merobek rasa,
menghancurkan citra dewa yang telanjur kupuja.
Logikaku menjerit muak, menyuruhku segera pergi.
Istana megah di kepalaku runtuh menjadi puing abu,
seketika rasa kagum ini luluh lantak berkeping-keping.
Namun, di sinilah letak kekalahanku yang paling sunyi.
Saat malam datang, hati ini keras kepala menolak lupa.
Aku membenci tabiat burukmu, tapi netraku masih mencuri pandang.
Hingga detik ini, aku masih menyukaimu dalam diam.
Bogor, 15 Mei 2026