Elegi Harapan di Batas Kalbu
Karya: Amalya Nur AiniDi kala cakrawala senja memandang
Permadani biru membentang luas
Batu karang duduk berbaris tenang
Angin lembut turut menyapa bebas
Di hadapan alam yang agung
Terselip kalbu kecil terus termenung
Hilang arah tanpa tujuan
Nalar ini riuh berperang sepadan
Mencoba bertanya sesuatu yang janggal
Ada apa?
Sebagian sukmanya menyangkal
Kalbu kecil itu berkedok kuat rupa
Rintik hujan jatuh ke pipi mungil itu
Tak terbendung sudah rasa pilu
Kalbu kecil itu diselimuti biru sendirian
Dipaksa kuat oleh keadaan
Merajut prakata untuk menjawab
Suara lirih terdengar sayup gaib
“Harapku tidak akan pernah sampai,”
Ujarnya dalam birunya
Betapa sakitnya dirasakan
Harapannya sampai pun tidak bisa
Lama sudah meniti waktu penantian
Terasa hampa ke angkasa rasa
Memahat lagi pijakan kukuh
Bangkit menembus kenyataan fana
Bertekad sembuh dari batin yang rapuh
Serta mengubur harapan yang sirna
Wero, 5 Juni 2026