Matahari Doa
Karya: Ardhani Pandu Wijaya KusumaKetika pagi menaruh harap di tepian jendela,
aku menenun kata-kata kecil ke langit yang tenang.
Doa itu seperti selembar daun yang rontok,
jatuh, berputar, lalu berlabuh pada akar sabar.
Ada suara yang menjawab lewat langkah orang asing,
senyum yang datang tanpa syarat, pintu yang tak lagi tertutup.
Beban yang lama merunduk perlahan mengangkat kepala,
dan hati menemukan arah pulang yang hangat.
Terima kasih bukan akhir, melainkan napas, doa yang terjawab adalah benih yang tumbuh, menjadi rumah bagi harap yang terus menunggu hujan.
Magelang, 15 juli 2026