Dibaca: Memuat...
Fajar Tak Pernah Ingkar
Karya: Cahaya Purnama. SDi lipatan malam yang enggan selesai,
aku menjahit harap dengan benang sabar.
Setiap sujud adalah musim
yang diam-diam menumbuhkan cahaya.
Doa adalah jangkar,
mengikat jiwaku agar tak hanyut
oleh ombak putus asa
yang berkali-kali mengajakku tenggelam.
Bertahun aku sujud dalam gelap,
hingga lututku hafal dingin lantai,
hingga air mata menjadi bahasa
yang hanya langit mengerti.
Namun fajar tak pernah ingkar.
Ia datang pelan,
menulis namaku di langit
dengan tinta keemasan
yang tak sanggup dihapus waktu.
Hujan pun memilih reda.
Pelangi membentang seperti pelukan,
sementara langit ikut tersenyum,
mengembalikan warna
yang sempat hilang dari mataku.
Tangan yang dahulu hanya mampu menengadah,
kini menggenggam jawaban.
Selembar harapan
yang pernah kupanggil lirih
akhirnya pulang memeluk kenyataan.
Aku belajar,
bahwa Tuhan tak pernah tuli.
Ia hanya sedang merangkai waktu
agar bahagia tiba
dengan cara yang paling indah.
Kini tak lagi kutanya, "kapan?"
Sebab setiap penantian
telah berubah menjadi syukur.
Setiap luka menjelma pelajaran.
Setiap air mata menjadi mutiara.
Di bawah langit yang selesai menangis,
aku memeluk mimpi yang telah menjadi nyata,
membiarkan dada dipenuhi damai,
dan untuk pertama kalinya,
aku benar-benar tersenyum.
Sekolah Rakyat Menengah Atas 2 Aceh Besar, 19 Juli 2026