Samar Cinta Diantara Wangi Latte
Karya: JUWITA NUR HASANAHKopi di seberang meja dapur itu masih menyimpan namamu, Mah.
Masih tercium wangi latte hangat tiap pagi,
berbaur dengan omelan yang kau ucapkan pada kami.
Mulutmu selalu bergerak, berbicara pada kami;
anak-anakmu, yang kau didik tiap hari
dengan secangkir kopi hangat di genggamanmu.
Harapan kasihmu seolah tak terucapkan,
tersembunyi di balik omelan pagi yang kami damba menjadi ucapan sayang.
Namun, itulah bentuk cintanya;
yang ia sampaikan lewat omelan dan segenggam kopi,
untuk kami yang dulu tak pernah tahu itu adalah kasih sayang.
Lambat laun, wangi kopi itu menghilang, Mah,
tertelan waktu dan tenggorokan yang telah usang.
Dan kini kami berdiri, mendengar dalam sunyi.
Dengan harapan yang sama,
semoga omelanmu dulu sempat tergantikan dengan kata-kata sayang.
Namun malang, kau terlanjur pergi meninggalkan,
tanpa sempat mengucap kata sayang yang lugas,
dan sayangnya, kami pun terlambat menyadari.
Bahwa kopi latte dan iringan omelanmu tiap pagi,
adalah wujud cinta sejatimu pada kami.
Yang kau harapkan, dapat kami sadari suatu hari nanti.
Bandung, 20 juli 2026