Titik Takdirku
Karya: Maulia SukatmaPekatnya malam tak mampu memadamkan semesta, sebab bulan hadir menjadi bahasa cahaya.
Sunyinya malam masih dipeluk hembusan nirwana yang bergaung dalam sukma.
Kala malam memeluk bumi dengan sunyinya dan manusia tenggelam dalam lautan mimpinya, jiwaku tetap bersimpuh pada satu nama, Sang Pemilik Semesta.
Setiap sunyi menjadi saksi saat jiwaku meluruh dalam doa, menyerahkan segala riuh gelombang kehidupan kepada Sang Maha Menggenggam Takdir.
Hingga detak takdir berlabuh pada waktunya, Tuhan menghadirkan seseorang yang menjelma menjadi jawaban dari setiap munajat yang kutitipkan kepada sunyi malam.
Akhirnya aku mengerti, langit tak pernah tuli. Hanya saja, Ia memilih waktu yang paling tepat untuk menjawabnya. Di antara derasnya air mata, perihnya luka, dan badai yang silih berganti, Tuhan sedang menempa jiwaku agar tak rapuh ketika tiba saatnya menerima anugerah-Nya.
Sebab doa yang terjawab bukan selalu tentang seberapa cepat ia tiba, melainkan seberapa siap hati menyambutnya.
Yang kusangka hanyalah jeda, ternyata jemari Tuhan sedang merajut takdir paling indah, hingga pada waktunya aku dipertemukan dengan jawaban yang selama ini kuharapkan dalam setiap sunyi, engkaulah titik takdirku.
Padalarang, 3 Juli 2026