Harapan Yang Pupus
Karya: Maya Aristia Janett ManullangKuterperangah, terjebak di bulan Maret,
menahan sesak pada takdir yang tak dapat kuingkari.
Merajut doa seakan Ayah selalu ada,
namun perlahan kusadari sosok penopang itu kini telah benar-benar pergi.
Terdengar samar-samar nasihat yang terucap tiap kali aku mengingat wajah lelahnya,
terkilas redup-redup bayangan dirinya yang seolah masih berdiri tegak di sampingku.
Namun ingatin selalu terbayang
semua hanya fatamorgana dan harapan yang patah karena takdir tak lagi merestu.
Daku tak mampu lagi menahan tangis di balik dada,
daku tak sanggup menyembunyikan luka saat kesuksesan tak dirayakan bersama.
Suara ini menahan gema perpisahan hingga raga gemetar tak berdaya, “Ayah harus ada di pelaminan nanti,”
begitu rintihan keputusasaan yang terucap tiap kali mengingatnya.
Aku menanti keajaiban yang tak pernah menyapa,
berharap waktu diputar kembali sebelum maut memisahkan raga.
Kini hanya sepi yang menjadi teman setia di tiap langkahku,
Hanya mampu memeluk kenangan tuk bertahan dalam kesendirian.
Kini aku pasrah pada takdir yang telah usai,
Doa untuk kehadirannya kini berganti menjadi doa untuk ketenangan di sana.
Biarlah rindu menjadi jembatan menghubungkan dunia kita yang berbeda,
Hingga nanti kita bersua dalam keabadian tanpa perpisahan.
Bekasi, 18 Juli 2026