Mengeja Langit
Karya: Mumun MunawatiMalam merawat jeda,
mengajari: kehilangan tak melulu fana.
Ada yang disembunyikan waktu.
Agar membedakan ingin dan ikhlas.
Kepada-Mu
Kularutkan sunyi.
Dengan bahasa yang bahkan air mata lebih fasih mengucapkannya
daripada bibirku.
Dunia menuduh langit membisu.
Padahal senyap-Mu adalah rahim.
Tempat harapan ditempa,
tempat sabar belajar memahami waktu.
Aku tak meminta langit segera membuka pintunya,
aku hanya takut,
bila terbangun
sebagai asing yang lupa cara mengetuk pintu-Mu.
Suatu pagi, matahari tak membawa emas di tangannya.
Hanya pengertian: jawaban tak selalu menyerupai pintaku.
Kadang menjelma kehilangan, agar kutemukan-Mu.
Kadang menjadi luka, agar kukenal tangan-Mu yang tetap tinggal.
Barulah kusadari, langit tak pernah diam.
Ia mengeja cinta-Mu lewat bahasa yang kusangka sunyi.
Kekalahanku mutlak, namun jiwaku menang.
Ternyata yang kucari telah lama tinggal dalam sunyi.
Rangkasbitung, 16 Juli 2026