Pada sunyi yang menyimpan cahaya
Karya: NATASSYA ARIATNAAda rindu yang tak mengenal alamat,
dan harapan yang tak pernah menemukan suara.
Keduanya hidup dalam dada,
berteman dengan waktu
yang berjalan tanpa pernah menoleh.
Aku belajar bahwa diam
bukan selalu tanda menyerah.
Kadang, diam adalah cara paling tulus
untuk menjaga mimpi
agar tetap bernapas di tengah keraguan.
Langit mengajariku satu hal:
tidak semua awan harus menangis
agar bumi percaya akan hujan.
Begitu pula harapan,
tak semua harus terucap
agar semesta memahami maknanya.
Maka kutitipkan doa-doa kecil
kepada angin yang tak pernah lelah berkelana.
Kubiarkan ia mengembara
melewati pagi, senja, dan malam,
hingga tiba pada waktu
yang telah Tuhan persiapkan.
Barangkali dunia tak pernah tahu
betapa sering hati ini berdialog dengan sepi.
Tentang mimpi yang terus bertahan,
tentang keyakinan yang tak ingin padam,
meski kenyataan berkali-kali
mengajarkan arti kehilangan.
Namun bukankah cahaya
selalu tampak paling indah
setelah gelap menyelesaikan tugasnya?
Karena itu aku tak lagi meminta
agar semua harapan segera menjadi nyata.
Aku hanya memohon
agar hatiku tak kehilangan percaya,
agar langkahku tak berhenti
sebelum takdir selesai menulis kisahnya.
Dan jika suatu hari
harapanku tetap tinggal sebagai harapan,
biarlah ia menjadi alasan
mengapa aku pernah bertumbuh,
mengapa aku tetap berani bermimpi,
dan mengapa aku tak pernah berhenti
mencintai kehidupan.
Sebab harapan yang tak tersampaikan
bukanlah akhir dari perjalanan,
melainkan awal bagi jiwa
untuk mengenal arti sabar, ikhlas, dan percaya.
Di dalam sunyi,
selalu ada cahaya
yang menunggu seseorang
cukup berani untuk menemukannya.
Musi Rawas, 5 juli 2026