Riwayat Sebuah Harap
Karya: Novidya Choirina PriyandiniAir di hadapanku sunyi.
Amat sepi santak sedu.
Mataku perlahan jadi air terjun.
Kepalaku menunduk.
Pada tanah di bawah sandalku.
Hatiku berkisik.
Butuh hangat di dingin bangku besi ini.
Dadaku pengap memikul perkara.
Gelap cakrawala tak ada beda.
Bingung hati pun sama saja.
Ingin mencurahkan pada siapa.
Yang duganya bagai masakan Ibu serta senyum Ayah?
Kanan kiriku meluas.
Sesamaku berkumpul.
Tiga, dua, atau lebih kurasa.
Silih menemani yang tengah merenung.
Bangku besi teman mati setiaku.
Walau kumau insan yang berbicara.
Sekalian temaniku bercurah-cirah.
Dongengan tak berpucuk.
Harap yang tak lekas sampai.
Tiada orang yang datang.
Seemosi dan sebahu denganku.
Aku masih di sini, belum tenggelam.
Jadi maukah kau berlabuh?
Biarkan telingamu untukku.
Andai enggan, lantas, haruskah kudekap jaketku?
Jepara, 11 Juli 2026