Saat Harap Gugur dari Ranting Waktu
Karya: Novita AdeliyaDi bawah langit yang menua oleh senja,
aku menanam namamu di taman paling sunyi dalam dada. Kusirami ia dengan doa, kujaga dengan kesetiaan, meski tak sekalipun ku temukan jejak langkahmu menuju arah yang sama.
Aku adalah musim yang terlalu lama menunggu bunga mekar, sedang kau adalah angin yang singgah tanpa pernah berniat menetap.
Dalam diam, ku tumbuhkan keyakinan seperti tunas yang meraba cahaya, meski berkali-kali angin keraguan menggoyahkan akar penantianku.
Hingga pada suatu musim, harap itu gugur dari ranting waktu. Ia meluruhkan satu per satu mimpi, menjatuhkannya seperti daun-daun gugur dari ranting yang lelah menanggung rindu.
Dan di antara reruntuhan mimpi, aku belajar menerima bahwa kehilangan yang paling pilu bukanlah saat seseorang pergi, melainkan saat kita menyadari ia tak pernah benar-benar berjuang untuk tinggal.
Bandar Lampung, 8 Juli 2026