Anatomi Doa yang Membisu
Karya: NUR AZIZAH PERMATA SARIDi bawah langit yang mulai temaram,
aku masih setia menyimpan rasa yang karam.
Kau tahu, ada sejuta kata yang ingin kuutarakan,
namun lidahku mendadak membisu seribu bahasa,
terpaku pada kenyataan yang tak searah.
Harapan ini bagai pungguk merindukan bulan,
mengejar bayangmu yang lari dalam rengkuhan.
Setiap untaian doa yang kupanjatkan di sepertiga malam,
kini menjelma kepedihan yang teramat dalam.
Aku terpaksa menelan pil pahit kenyataan,
bahwa kita hanyalah garis yang takkan pernah berpapasan.
Biar waktu yang menyembuhkan luka ini,
menghapus jejakmu yang telanjur abadi di hati.
Biarlah harapan ini terkubur bersama malam,
menjadi rahasia paling sunyi yang kupendam.
Tegal, 26 juni 2026