Di Ambang Pintu yang Terkunci
Karya: Nur'mawadahDi sini, aku masih menabung sisa suara yang kutelan bulat-bulat tiap kali namamu beradu dengan detak jam yang cemburu.
Ada bait-bait rahasia yang sempat kuukir di udara, namun ia menguap sebelum sempat menyentuh telingamu.
Aku adalah surat yang tak pernah punya alamat, menuliskan rindu pada secarik kertas yang kubakar sendiri dalam sunyi.
Ternyata benar, ada jarak yang tak bisa dijembatani oleh doa, seperti laut yang memeluk daratan namun tak pernah benar-benar menjadi satu.
Sekarang, harapku telah menjadi debu yang tenang, tak lagi memohon untuk didengar.
Aku hanya ingin berhenti menjadi beban yang kupikul sendirian.
Sebab melepaskanmu adalah cara paling tabah untuk merawat sisa kewarasanku yang retak.
Jakarta Timur, 2 Juli 2026