Alamat yang Tak Pernah Ada
Karya: Rebeka Mei YaderaTerjaga di antara gelap yang hampir pudar,
Menyisakan rasa gelisah yang tak pernah padam.
Ditemani asap kelabu dan secangkir kopi,
Yang tak lagi membara.
Bingkai hitam yang kumuh masih terpasang membelakangi jendela,
Seakan tak sudi menerima cahaya sang surya memudarkan senyuman di dalamnya.
Sepucuk surat masih tersegel erat dengan noda pena yang hampir pudar,
Hanya mengingat benang merahnya tapi tidak dengan keseluruhan tinta hitam itu.
Mulai berjalan di tengah keramaian kota,
Membawa surat yang setiap sisinya mulai kusut.
Melingkari bundaran untuk seribu kali,
Dengan alasan yang klasik.
Memandang setiap wajah yang ada,
Berharap di antara mereka ada siluetmu di sana dengan senyuman yang sama pada bingkai lusuh itu.
Namun gelap telah datang,
Membisikkan sebuah logika yang tak bisa hati terima.
Ambon, 19 Juli 2026