Yang Tak Pernah Kuberanikan Ucap
Karya: SHAFIRA NAJLA HANUNNA SHEDIAda banyak kata
yang mudah keluar dari bibirku.
Tentang impian,
tentang masa depan,
tentang keinginan-keinginan
yang selalu kupanjatkan
dalam diam.
Namun ada satu doa
yang selalu tertahan.
Bukan karena aku tak menginginkannya,
melainkan karena aku merasa
belum pantas memintanya.
Ya Allah...
Aku datang lagi
dengan hati yang masih sama.
Masih dipenuhi khilaf,
masih dipenuhi lalai,
masih sering lupa
bahwa hidup yang kunikmati hari ini
dibangun dari lelah
dua manusia
yang tak pernah meminta balasan.
Aku pernah membuat ibu menangis.
Bukan sekali.
Aku pernah membalas nasihatnya
dengan diam yang menyakitkan.
Aku pernah menganggap
perhatiannya sebagai kekangan.
Padahal kini aku tahu,
setiap larangannya
adalah bentuk cinta
yang bahkan tak mampu
kutulis dengan kata-kata.
Aku juga pernah mengecewakan ayah.
Lelaki yang tak pandai
mengucapkan sayang,
tetapi diam-diam
mengorbankan banyak hal
agar aku tetap bisa bermimpi.
Aku tak pernah benar-benar tahu
berapa banyak doa
yang mereka panjatkan untukku.
Aku hanya tahu,
setiap kali aku terjatuh,
selalu ada tangan mereka
yang lebih dulu
memintaku bangkit.
Sedangkan aku...
lebih sering lupa
mengucapkan terima kasih.
Ya Allah...
Jika malam ini
Engkau mengizinkan
seorang pendosa
mengangkat kedua tangannya,
izinkan aku meminta
bukan untuk diriku.
Aku tidak meminta
agar hidupku dipenuhi kemudahan.
Aku tidak meminta
agar semua keinginanku
menjadi nyata.
Aku hanya meminta
satu kesempatan.
Jangan ambil mereka
sebelum aku sempat
membalas satu persen
dari seluruh kasih
yang telah mereka berikan.
Izinkan aku
melihat ibu tersenyum
karena bahagia,
bukan karena menyembunyikan lelah.
Izinkan aku
melihat ayah beristirahat
tanpa lagi memikirkan
bagaimana esok
aku akan menjalani hidup.
Ya Allah...
Jika selama ini
aku lebih banyak menyusahkan mereka,
maka izinkan hari-hari yang tersisa
menjadi caraku
menebus semua itu.
Aku ingin
menggenggam tangan mereka
tanpa terburu-buru.
Aku ingin
mendengar cerita mereka
tanpa melihat jam.
Aku ingin
mengucapkan kalimat
yang selama ini
terlalu sering kutunda.
"Terima kasih."
"Maafkan aku."
"Aku mencintai kalian."
Tiga kalimat sederhana,
namun entah mengapa
selalu terasa sulit
untuk keluar
selagi mereka masih bisa mendengarnya.
Ya Allah...
Aku takut.
Bukan takut miskin.
Bukan takut gagal.
Bukan takut kehilangan dunia.
Aku hanya takut
suatu hari nanti
aku berdiri
di hadapan pusara mereka,
membawa keberhasilan
yang terlambat.
Membawa penyesalan
yang tak lagi mampu
didengar oleh siapa pun.
Aku tak ingin
air mataku
menjadi bahasa
yang datang
setelah semuanya usai.
Karena itu,
kabulkanlah doa ini.
Bukan karena aku layak.
Tetapi karena mereka
terlalu pantas
untuk merasakan bahagia.
Panjangkan usia mereka
dalam iman dan kesehatan.
Mudahkan setiap langkahnya.
Ringankan setiap beban
yang tak pernah mereka ceritakan.
Dan jika harus ada
kesulitan yang datang,
biarlah aku
yang belajar menanggungnya.
Sebab mereka
telah terlalu lama
menanggung hidupku.
Ya Allah...
Aku tahu
aku bukan anak terbaik.
Aku masih jauh
dari segala yang mereka harapkan.
Tetapi jangan biarkan
aku kehilangan kesempatan
untuk menjadi anak
yang mereka banggakan.
Sebelum waktu
mengambil mereka pulang,
izinkan aku
menghadiahkan senyum
yang selama ini
hanya mereka titipkan
dalam setiap sujud.
Karena sesungguhnya,
yang tak pernah kuberanikan ucap
bukanlah tentang mimpiku.
Melainkan doa sederhana
yang setiap malam
menggugurkan air mataku—
Ya Allah...
izinkan aku membahagiakan kedua orang tuaku,
sebelum penyesalan
menjadi satu-satunya hal
yang tersisa dalam hidupku.
PATI, 20 JULI 2026