Sofiah Rahmawati - Di Ujung Harap yang Sunyi (LCP 47)

📅 07 Juli 👁 Memuat...

Di Ujung Harap yang Sunyi

Karya: Sofiah Rahmawati



Di ujung harap yang sunyi,
aku menanam doa
pada tanah yang tak pernah menjanjikan musim.

Kubisikkan namamu
kepada angin yang melintas,
barangkali ia tahu
ke mana rindu harus pulang.

Langit hanya menjawab
dengan senja yang perlahan memudar,
seolah berkata,
tidak semua yang ditunggu
ditakdirkan untuk tiba.

Aku belajar dari tanah Bima,
tempat *maja labo dahu*
bukan sekadar petuah,
melainkan cahaya
yang menjaga langkah reagar tak kehilangan arah.

Orang-orang tua berkata,
*nggahi rawi pahu*
ucapan dan perbuatan
harus saling menggenggam.

Maka aku memilih diam,
sebab ada luka
yang lebih fasih diceritakan
oleh air mata
daripada ribuan kata.

Aku ingin menjadi laut,
menerima setiap sungai
tanpa bertanya
mengapa ia datang membawa keruh.

Aku ingin menjadi langit,
tetap membentang
meski berkali-kali
disayat petir kenyataan.

Dan bila harap ini
tak pernah menemukan rumahnya,
izinkan aku menyimpannya
di antara sujud yang paling panjang.

Sebab aku percaya,
Tuhan tak pernah kehilangan alamat
untuk setiap doa
yang lahir dari hati yang tulus.

Di ujung harap yang sunyi,
aku tak lagi meminta
agar semesta memihakku.

Cukuplah aku tetap menjadi manusia
yang mampu mencintai
tanpa memiliki,

yang mampu merelakan
tanpa membenci, dan yang tetap
Melangkah meski sunyi berjalan
di sampingku.

Karena pada akhirnya,
yang gugur bukanlah harapan,
melainkan ego
yang terlalu ingin memaksa takdir.

Sedangkan cinta....

akan selalu menemukan jalannya,
meski harus pulang
melewati sepi.


Kota Bima, 5 Juli 2025