Delvinia Analisa Dua Bunga - Ketika Doa Menjadi Jembatan (LCP 48)

📅 07 Agustus
Dibaca: Memuat...

Ketika Doa Menjadi Jembatan

Karya: Delvinia Analisa Dua Bunga


Di bawah langit yang sama kami menengadah,
mengangkat harap dengan tangan yang berbeda.
Ada yang bersujud dalam hening,
ada yang berlutut dalam kasih,
ada yang melantunkan pujian dengan keyakinan masing-masing.
Namun setiap doa berangkat dari tempat yang sama: hati yang merindukan damai.

Doa tak pernah bertanya siapa namamu,
dari rumah ibadah mana engkau datang,
atau bahasa apa yang kau ucapkan.
Ia hanya mengenal air mata,
keikhlasan, dan cinta
yang mengalir tanpa sekat.

Di tengah dunia yang mudah terpecah,
doa menjadi jembatan yang tak terlihat.
Ia merangkul yang jauh,
mendekatkan yang sempat bermusuhan,
dan mengajarkan bahwa perbedaan
bukan alasan untuk saling menjatuhkan.

Bukankah langit yang kami pandang tetap satu?
Bukankah matahari menyinari siapa saja
tanpa memilih keyakinan?
Maka biarlah doa-doa kami
menjadi untaian cahaya
yang menyulam persaudaraan di bumi Indonesia.

Kami percaya,
ketika satu hati mendoakan kebaikan bagi hati yang lain,
kebencian kehilangan tempat untuk tumbuh.
Sebab doa bukan hanya permohonan,
melainkan bahasa kasih
yang dipahami oleh kemanusiaan.

Hari ini kami memilih berdoa,
bukan untuk memenangkan perbedaan,
melainkan untuk memeluknya dengan bijaksana.
Agar negeri ini tetap teguh berdiri,
dengan tangan-tangan yang saling menggenggam,
dan hati-hati yang saling menguatkan.

Sebab pada akhirnya,
doa yang paling indah
bukanlah yang paling lantang terdengar,
melainkan yang mampu menyatukan manusia
dalam kasih, damai, dan harapan,
menuju masa depan yang lebih bercahaya.


Maumere, 06 Agustus 2026