Karya: Fifi Tri Rohati
Malam menulis sesuatu
di atas kertas yang tak pernah sampai ke tangan kita.
Dua nama tercetak berdampingan,
seperti kesalahan kecil
yang sengaja dibiarkan Tuhan.
Aku membaca namamu
di sela-sela doaku sendiri.
Aneh, bukan?
Aku tak pernah memintamu secara langsung,
namun entah mengapa
setiap amin selalu membawa arah yang sama.
Mungkin doa memang tak membutuhkan alamat.
Ia hanya perlu hati
yang tulus mengetuk langit.
Jika suatu hari kita bertemu,
barangkali bukan kebetulan.
Barangkali langit sedang menunjukkan
struk lama yang pernah kita abaikan:
dua nama, satu harapan,
dan Tuhan sebagai pemilik
segala kemungkinan.
Sebab yang menyatukan kita
bukan tangan yang saling menggenggam,
melainkan doa
yang diam-diam menyebut
nama kita dalam satu kalimat.
Karawang. 29 Agustus 2026